Marapthon, Pelajaran Tentang Empati di Era Digital



Belajar Menghargai Apa yang Orang Lain Sukai, Bahkan Saat Kita Tidak Memahaminya

Belakangan ini sebuah entitas nama terus berseliweran di timeline media sosialku: Marapthon.

Buat orang yang aktif di dunia digital, nama itu jelas bukan sesuatu yang asing. Apalagi sekarang, hype penutupan Marapthon Season 3 dengan Festivaaal Marapthon, bisa dibilang sedang sangat happening!

Tak berhenti sampai di situ, prestasi mereka meraih Guinnes Book of Record! Pencapaian yang luar biasa!

Sebagai seseorang yang hampir seluruh pekerjaannya berkutat di dunia maya, aku cukup terbiasa mengamati tren. Aku menulis, membuat konten, scrolling untuk riset, dan secara natural memperhatikan apa yang sedang ramai dibicarakan banyak orang.

Dan jujur, Marapthon menarik perhatianku.
Bukan cuma karena angkanya besar, tapi juga karena fenomenanya unik.

Sebagai "ibu-ibuuuu" aku sampai hapal nama mereka. Ada Jot, Garry, Yuka, Bravy, mas Tepe, Ibot, Niko dan the famous one and only : King Aloy! 

Marapthon adalah sebuah live streaming dengan konsep yang terdengar sederhana: sekumpulan anak nongkrong.

That’s it.

Tidak ada skrip rumit. Tidak ada konsep terlalu formal. Hanya interaksi manusia yang terasa mentah, spontan, dan real. Tapi justru di situlah kekuatannya.

Banyak orang yang tidak menonton akan menganggap, “Ah, cuma tongkrongan anak gaul.”

Sebagian besar mungkin cuma lihat potongan video di TikTok.

Lihat bahasa mereka kasar.
Lihat gaya mereka bebas.
Lihat penampilan mereka nyentrik.
Lalu selesai.

Judgement langsung turun.

Padahal, kalau tidak menonton penuh, tidak mengikuti prosesnya, tidak memahami konteksnya, kita sebenarnya hanya sedang menilai dari permukaan.

Dan permukaan atau cover buku, memang sering menipu.

Aku jadi teringat percakapan dengan beberapa teman.
Komentarnya kurang lebih begini:

    “Ah, aku nggak suka. Omongannya kasar.”
    “Gayanya terlalu bebas.”
    “Bisa jadi role model yang nggak baik buat anak-anak.”
    “Astaghfirullaaah.. pake tatto!”

Aku paham kenapa mereka berpikir begitu.

Karena kalau yang dilihat hanya potongan klip 15–30 detik, memang kesan yang muncul bisa seperti itu.

Tapi pengalaman mengajarkanku satu hal:
kadang yang kita lihat di luar, jauh sekali dari apa yang sebenarnya ada di dalam.

Semakin aku mengikuti Marapthon, semakin aku sadar bahwa di balik semua chaos, candaan absurd, bahasa tongkrongan yang keras, dan aura rebel itu… ada sesuatu yang hangat dan cerdas.

Ada persahabatan.

Ada loyalitas.

Ada rasa saling menjaga.

Ada kasih sayang yang mungkin tidak dibungkus dengan bahasa manis, tapi terasa nyata lewat tindakan.

Interaksi manis itu, mewakili perasaan semua anak muda. Betapa akrab dan indahnya bromance tanpa saling nyinyir di belakang. Semua berjalan, flowing dan apa adanya.


Dan tentu saja, semua itu tidak lepas dari sosok sentralnya: Reza 'Arap' Oktovian.

Atau kalau para penontonnya bilang: YB.
A.k.a Mas Yeb.

Menariknya, banyak orang melihat YB hanya dari satu sisi.

Padahal kalau mengikuti lebih dalam, kita bisa melihat dia seperti punya banyak layer.

Ada Reza Arap yang dikenal publik.
Ada persona Chacha, anak usia pra remaja yang terperangkap dan keluar ketika kesadarannya teralihkan (baca : drunk!)
Ada YB yang terasa seperti sosok “kakak” atau “leader” bagi orang-orang di sekitarnya.

Dan justru dari situlah terlihat sesuatu yang mungkin tidak semua orang tahu.
Di balik image kerasnya, ada sisi rapuh dan empati.
Di balik persona nyelenehnya, ada kerja keras yang luar biasa.

Di balik semua kontroversinya, ada niat untuk mengangkat banyak orang. Ia tak keberatan teman-temannya menjadikan dia sebagai tangga pansos mereka.

And, the fact is... tak sedikit orang yang terbantu karena keberadaan Marapthon. 

Mulai dari para crew yang bekerja bersama, para driver ojol yang nganterin makanan tiap hari, UMKM sekelas tukang donat sampai pemilik katering berkelas!
Belum lagi ribuan clipper yang bekerja di sosmed mereka!

Donasi yang masuk jumlahnya fantastis, man... miliaran!

Tapi yang lebih penting, uang itu tidak berhenti di mereka.

Banyak yang kembali disalurkan.

Untuk guru honorer.
Untuk panti asuhan.
Untuk berbagai bentuk bantuan lain.
Untuk banyak kebaikan.

Belum lagi UMKM.

Banyak brand kecil dan usaha kecil yang terbantu exposure-nya lewat Marapthon.
Bahkan, Jot - si penggagas Marapthon, menyediakan sebuah ruang untuk review prodak UMKM ini!

Ini yang sering tidak terlihat.
Karena orang lebih mudah fokus pada hal-hal yang sensasional.

Bahasa kasar lebih cepat viral.
Clip mabuk lebih cepat menyebar.
Kontroversi lebih gampang memancing komentar.

Sementara kebaikan?
Sering tenggelam.

Dan ini bukan soal membela seseorang secara buta.
Bukan berarti semua yang mereka lakukan benar.

Tidak juga.

Aku juga paham bahwa tidak semua gaya hidup mereka cocok untuk semua orang.
Tidak semua ucapan mereka pantas ditiru.
Tidak semua perilaku mereka ideal dijadikan contoh.

Itu valid.
Sangat valid.

Tapi ada perbedaan besar antara:

“Ini bukan value yang cocok buatku”
dan
“Ini tontonan nggak jelas.”

Yang pertama adalah preferensi.

Yang kedua adalah judgement.

Dan menurutku, sebagai manusia, kita perlu belajar membedakan keduanya.

Kita tidak harus menyukai semua hal yang orang lain sukai.

Kita juga tidak harus ikut ngefans.

Tapi menghargai?
Itu beda cerita.

Menghargai berarti memahami bahwa sesuatu yang mungkin tidak berarti buat kita, bisa jadi sangat berarti bagi orang lain.

Menghargai berarti menahan diri untuk tidak meremehkan hanya karena kita tidak relate.

Menghargai berarti sadar bahwa dunia tidak berputar pada perspektif kita saja.

Aku rasa ini berlaku untuk banyak hal.

Musik.
Film.
Hobi.
Game.
Komunitas.
Bahkan fandom.

Kadang kita melihat seseorang begitu antusias terhadap sesuatu, lalu reaksi spontan kita adalah:

    “Apaan sih?”
    “Lebay banget.”
    “Segitunya?”

Padahal mungkin itu adalah tempat di mana mereka merasa terhubung.
Merasa diterima.
Merasa punya komunitas.
Merasa punya ruang untuk jadi diri sendiri.

Dan bukankah itu sesuatu yang layak dihormati?

Aku belajar satu hal penting dari semua ini.
Tak kenal, maka memang sering salah menilai.

Kadang kita cuma butuh sedikit rasa ingin tahu sebelum menghakimi.

Sedikit empati sebelum berkomentar.

Sedikit ruang untuk berkata,
“Mungkin aku belum tahu cerita lengkapnya.”

Karena manusia selalu lebih kompleks daripada label yang kita tempelkan.

Anak tatoan belum tentu buruk.
Orang yang ngomong kasar belum tentu berhati kasar.
Orang yang terlihat liar belum tentu tidak punya hati.

Sering kali justru mereka yang tampak paling keras di luar, menyimpan hati yang paling lembut.

Jadi mungkin, lain kali saat seseorang menyukai sesuatu yang tidak kita pahami; entah itu streamer, influencer, komunitas, atau fandom tertentu... kita tidak perlu buru-buru menghakimi.

Tidak suka? Boleh.

Tidak relate? Wajar.

Tapi meremehkan?
Mungkin tidak perlu.

Karena menghargai apa yang orang lain sukai adalah salah satu bentuk kedewasaan yang sering terlupakan.

Dan di era digital yang penuh opini ini, kemampuan untuk memahami sebelum menghakimi mungkin adalah hal yang semakin langka.

Sekaligus semakin berharga.

Komentar

  1. Aku setuju sama apa yang Mba Tanti bilang, meskipun kita nggak mengerti upayakan untuk tetap menghargai.
    Apalagi Marapthon punya multiplier efek yang luas. Paling terdekat untuk para gojek dan UMKM.

    Bisa dibilang mereka sudah melakukan hal baik. Kenapa? Sesimple kita bisa bermanfaat buat orang lain. Apa yang kita lakukan bisa bawa efek baik. Untuk caranya balik ke individu masing-masing.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah ini dia poin pentingnya 👍

      Nggak harus selalu ngerti dulu untuk bisa menghargai. Kadang cukup buka hati dan lihat dari sudut pandang yang lebih luas.

      Aku juga sepakat soal multiplier effect-nya. Impact sebuah event itu kadang nggak cuma dirasakan peserta, tapi juga banyak orang di sekitarnya—termasuk gojek dan UMKM.

      Sesederhana bisa kasih manfaat buat orang lain aja sebenarnya udah keren sih :)

      Hapus
  2. wah baru baca tentang Marapthon ini dari sisi yang berbeda
    emang sih selama ini yang kita baca adalah justifikasi keburukan mereka
    kebetulan saya bukan penikmat konten hahaha hihihi
    dulu kan sering banget Deddy Corbuzier bikin konten seperti itu
    padahal itu soal selera ya
    dan selera gak bisa diperdebatkan
    termaasuk ketika ada konten melakukan pendekatan yang berbeda, kita gak boleh langsung menilai mereka buruk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kadang narasi yang beredar memang lebih sering fokus ke sisi buruknya, jadi sudut pandang lain sering kelewat. Padahal menarik juga kalau kita coba lihat dari sisi empati dan konteks yang lebih luas.

      Setuju banget, selera memang sesuatu yang personal dan nggak selalu bisa disamaratakan. Karena itu menurutku penting juga untuk nggak buru-buru menghakimi hanya karena pendekatan atau gaya seseorang berbeda dari yang biasa kita lihat.

      Hapus
  3. Gue kemana aja ya. Baru ini denger yang namanya MARAPTHON. Gue kira tadinya ini acara musik atau olahraga yang berisi kegiatan awareness tentang isu kesehatan. Eh ternyata berbeda banget ya. Astaga. Jadi penasaran. Bisa nonton di mana emangnya Tan?

    Sedikit berpendapat. Masalah like and dislike. Semua, harus kita ketahui dan pahami, selalu dimulai dari kesan pertama dan visual yang mampir ke netra kita. Dan itu manusiawi plus hak asasi. Masalah seseorang akan melanjutkan evaluasinya itu kembali kepada niat dan pemahaman masing-masing pribadi. Jadi kalau aku sih orangnya ringkes dan cenderung gak mau ribet. Jika itu tidak kita sukai, ya tinggalkan. Dalam diam. Pun saat bertemu orang yang mendadak kita suka. Ya nikmati aja dalam diam. Biarkan waktu berbicara. Biarkan semua berproses.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jujur aku juga awalnya sempat mikir MARAPTHON itu semacam event lari atau konser awareness gitu 😄 ternyata pas tahu konsep aslinya, lumayan bikin mikir juga.

      Aku setuju banget sama pendapatmu soal like and dislike. Memang semuanya sering berawal dari first impression, dari apa yang pertama kali mata kita tangkap. Itu manusiawi banget. Tapi yang menurutku menarik justru setelah itu—apakah kita berhenti di penilaian awal, atau mau melangkah sedikit lebih jauh untuk memahami.

      Aku suka kalimatmu: jika tidak suka, tinggalkan dalam diam. Kadang itu justru bentuk kedewasaan ya—nggak semua hal harus dikomentari, nggak semua hal harus direspons. Ada kalanya diam itu pilihan paling elegan..

      thanks An

      Hapus
  4. Belum tentu tahu secara jelas dan gamblang kalau hanya melihat sebagian demi sebagian. Tidak melihat secara keseluruhan
    Tapi kalau di tiktok kan emang banyak yg potongan potongan gitu ya. Gak salah juga buat mereka yg gak suka karena gak salah juga kalau hanya lihat sebagian aja.
    Tapi kalau tidak memberikan sembarangan penilaian, nah itu saya setuju.
    Jangan melihat dan menilai buku dari jilid nya aja. Bukan begitu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya teh Okti maksud aku juga ngga mau "kasih paham boss" ke temenku itu tapi minimal jangan komen jahara kalo ga ngerti whole story gituuu

      Hapus
  5. Salut sama kegiatannya tapi saya lebih salut sama yang nonton. Bayangin lebih dari seratus hari dan ada yang ngikutin juga tiap hari, entah di sela rutinitas atau memang seloyal itu.

    Tapi saya baru tahu juga dari postingan ini si Arap ada persona lain kalau lagi mabuk. Selama ini memang cuma tahu dari apa yang dimuat di media saja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya juga yaaa yg nonton loyal banget loh, waktu FESTIVAaaL bahkan datang dari luar kota dan ada yg dari US

      Hapus

Posting Komentar

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)

Postingan Populer