Kenapa Orang Pintar Pun Bisa Termakan Hoaks?


"Orang pintar sekalipun bisa termakan hoaks bukan karena kurang ilmu, melainkan karena jebakan logika waktu cepat, manipulasi algoritma, dan bias emosi yang mematikan daya kritis di ruang digital."

Solusi Tak Terduga di Balik Layar Digital

Gemes!

Ya darahku mendidih, kadang pengen marah karena merasa heran, melihat akun bercentang biru dengan gelar doktor, profesor, atau jurnalis senior; malah ikut-ikutan menyebarkan berita bohong alias hoaks di media sosial!

Logikanya, bestie... 

mereka yang berpendidikan tinggi, seharusnya kan punya "filter intelektual" yang lebih rapat untuk menyaring informasi. Tapi kenyataannya? Nol besar! 

Di linimasa media sosial, gelar akademik yang aku hormati ini, kadang kuanggap bermulut sampah juga! 

Dalam sebuah diskusi menarik antara dua akademisi dan praktisi media, yaitu :

Dr. Rulli Nasrullah, M.Si. (yang akrab disapa Kang Arul) salah satu pakar media siber (new media), peneliti komunikasi digital, penulis, dan akademisi terkemuka di Indonesia.) bersama Prabu Revolusi, S.T., M.A.P., Ph.D. yang adalah seorang jurnalis senior, pembawa acara televisi, akademisi, dan pejabat publik asal Indonesia, membedah fenomena ini secara tajam. 



Ternyata, jawabannya bukan cuma soal "kurang literasi", melainkan ada mekanisme psikologis, teknologi, hingga persoalan sistemik yang melatar belakanginya.

Yuk, kita bedah kenapa orang pintar pun bisa "kecele" hoaks dan apa solusi menyegarkan yang jarang dipikirkan orang!

1. Logika Waktu Cepat: Kita Cuma Punya Waktu 1,7 Detik!


Di era media siber, kita hidup dalam apa yang disebut logika waktu cepat (fast-time logic). Media sosial memborbardir kita dengan ribuan konten setiap hari. Akibatnya, secara psikologi digital, otak kita terbiasa membaca potongan-potongan informasi secara instan.
Menurut riset perilaku pengguna media sosial,
 rata-rata orang hanya melihat sebuah unggahan selama 1,7 detik sebelum memutuskan untuk terus membaca atau swipe lanjut.

Kang Arul menganalogikannya dengan : "Bayangkan ada logo media terkenal seperti Kompas, tapi tulisannya diubah sedikit jadi Kompos dengan tipografi, warna, dan font yang persis sama." 

Karena mata kita hanya melihat sekilas (1,7 detik tadi), otak langsung menyimpulkan, "Oh, ini berita dari Kompas, pasti bener." Tanpa dicek lagi, jempol langsung klik tombol share.

Inilah jebakan teknologi yang membentuk kebiasaan membaca superfisial!

2. Consensual Hallucination & Racun Digital


Kenapa orang yang terlatih melakukan gatekeeping (penyaringan informasi) seperti wartawan senior bisa kehilangan daya kritisnya?

Jawabannya adalah Consensual Hallucination—konsep yang pertama kali dipopulerkan oleh penulis fiksi ilmiah William Gibson. Ini adalah kondisi psikologis di mana tubuh dan motorik kita bergerak mengikuti apa yang dianggap benar oleh pikiran kita di dunia digital.

  • Analoginya simpel: Saat kamu main game balap mobil atau bola di konsol, badanmu sering ikut miring-miring atau kaki refleks mau menendang, kan? Padahal kamu cuma memegang stik game.

Di media sosial, hal yang sama terjadi. Ketika kita melihat sebuah konten, lalu teman-teman dekat kita ikut berkomentar dan membagikannya (friendvertising), otak kita secara tidak sadar menganggap informasi itu valid.

Racun digital (digital poison) ini bekerja halus sekali: kita tidak sadar saat "meminumnya".

3. Algoritma, Echo Chamber, dan Bias Emosi

Suka tidak suka, media sosial bekerja berdasarkan preferensi pengguna (user preference).

  • Algoritma merekam segalanya: Berapa detik kamu berhenti di satu unggahan, jaringan pertemananmu, bahkan pembicaraan di sekitar ponselmu yang terekam via mikrofon.

  • Ruang Gema (Echo Chamber): Jika kamu sudah membenci atau menyukai figur/topik tertentu, algoritma akan terus menyuapi konten yang sejalan dengan emosimu.

Ketika seorang akademisi atau tokoh pintar membuka medsos dalam kondisi lelah, emosi, atau memang sudah punya bias/kebencian awal (pre-existing belief), benteng rasionalitasnya runtuh. Jempolnya lebih cepat mengetik daripada otaknya berpikir.

4. Solusi Unik: Menjadikan Medsos Sebagai Output Akademik!

Selama ini, narasi melawan hoaks selalu berkutat pada pengetatan regulasi, pembatasan platform, atau pemblokiran akun

Tapi Kang Arul membawa sudut pandang yang sangat refreshing

Bagaimana kalau cara terbaik melawan hoaks adalah dengan memperbanyak pasokan informasi berkualitas?

Masalahnya sekarang, banyak dosen, doktor, dan profesor yang enggan atau "tidak sempat" aktif menyebarkan ilmunya di medsos. Kenapa?

  1. Beban administrasi kampus yang sangat menyita waktu (tridarma, laporan, audit).

  2. Tuntutan kewajiban publikasi di jurnal terindeks (seperti Scopus) yang sering kali hanya dibaca sesama akademisi.

  3. Media sosial masih dianggap sekadar tempat "main-main", flexing, atau nyampah.

Padahal, standar sitasi internasional seperti APA dan MLA sudah lebih dari 10 tahun membolehkan dan mengatur tata cara merujuk/mengutip (citation) dari konten media sosial!

Jika sistem pendidikan dan regulasi kita mau mengakui aktivitas akademisi di media sosial sebagai bagian dari kontribusi ilmiah/output akademik, para pakar ini akan punya motivasi lebih untuk membagikan riset mereka secara populer.

Bayangkan jika ruang publik kita diisi oleh penjelasan-penjelasan ilmiah yang mudah dipahami langsung dari pakarnya. Pasokan informasi benar akan melimpah, dan ruang untuk hoaks secara otomatis akan tergerus!

Kesimpulan


Termakan hoaks ternyata bukan cuma masalah tingkat pendidikan atau angka IQ, melainkan tentang bagaimana teknologi memanipulasi emosi, waktu perhatian (attention span), dan bias psikologis kita.

Untuk membendungnya, kita tidak bisa hanya mengandalkan "pembersihan" sampah hoaks. Kita butuh para pemilik ilmu untuk mau turun gunung, merapikan setelan rekomendasi algoritma mereka, dan mengisi ruang digital dengan konten-konten yang mencerdaskan.

Bagaimana dengan kamu?

Pernah nggak kamu atau orang pintar di sekitarmu hampir (atau malah pernah) kecele sama berita hoaks yang kelihatan meyakinkan banget? Setuju nggak kalau para dosen dan ahli di Indonesia harusnya lebih aktif bikin konten edukasi di medsos?

Tulis pendapat atau pengalaman kamu di kolom komentar ya! Jangan lupa bagikan artikel ini ke teman-temanmu agar kita makin bijak bernavigasi di dunia digital.

Komentar

  1. Setuju banget kalau para expertise di bidang masing-masing lebih banyak memberikan informasi melalui konten digital. Jadi, belajar bisa dari mana-mana dan lebih banyak lagi orang-orang yang teredukasi dengan konten yang real bermanfaat.

    Soal kemakan hoax, sering terjadi di grup keluarga besar ya. Wkwk.. Ntah langsung share tanpa dibaca atau nggak diteliti ulang, biasanya malah yang keshare berita hoax. Tugas yang lebih muda jadinya memberi tahu kalau yang dishare itu nggak benar.

    BalasHapus

Posting Komentar

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)

Postingan Populer