Trik Rahasia Mayora : Bermain di Memori dan Rasa

Perlu dibeli apa engga, yaa?
Beli karena butuh itu investasi kenyamanan, beli karena lapar mata itu langganan penyesalan


Pernah nggak, pas lagi belanja ke mini market niat awalnya cuma mau beli galon atau air mineral galonan, eh... pas sampai di meja kasir, tangan ini latah ikut comot Beng-Beng sama Kopiko? Padahal jujur aja, di rumah stok camilan masih ada, dan yang bikin makin heran: produk-produk itu lagi nggak ada diskonan sama sekali!

Tanpa kita sadari, kita ini sebenarnya sering banget "masuk perangkap" halus perusahaan FMCG (Fast-Moving Consumer Goods alias barang kebutuhan harian yang cepat laku). Dan Mayora ini tergolong 'dalang' yang paling pinter sekaligus halus banget mainnya.

Gaya bisnis mereka itu beda, lho. Kalau merek lain sibuk sikut-sikutan banting harga demi ngerebutin pembeli (perang harga yang bikin kantong emak-emak menjerit!), Mayora justru tenang-tenang aja mengantongi untung triliunan rupiah.

Nah, balik lagi di seri Bedah Psikologi Marketing bareng neng Tanti! Setelah kemarin kita puas membedah rahasia bikin betah ala Solaria, konsep "rumah kedua" Starbucks, sampai perang dingin Indomie lawan Mie Sedaap yang legendaris itu... kali ini kita bakal kulik habis gimana caranya Mayora bisa "ngunci" otak dan kebiasaan belanja kita tanpa perlu banting-banting harga.

Yuk, ambil cangkir teh hangatmu dulu, kita bedah bareng-bareng sambil santai :))


1. Senjata Pertama: Mengunci Habitual Buying Behavior (Belanja Mode Otomatis)

Di dunia pemasaran, ada istilah keren namanya Habitual Buying Behavior. Tapi kalau bahasa sederhananya kita para ibu rumah tangga: Belanja Mode Otomatis.

Coba bayangkan kalau lagi belanja bulanan bareng Pak Suami dan anak-anak. Di lorong minimarket atau supermarket yang barangnya berderet warna-warni, jujur aja otak kita tuh udah capek duluan. 

Bawaannya pengin cepat selesai, kan? 

Nggak mungkin juga kita berdiri satu jam di depan rak cuma buat bikin perbandingan biskuit mana yang paling bagus. Nah, di celah inilah Mayora masuk dengan cantiknya.

Mereka tahu banget kalau produk mereka itu bakal dibeli berulang kali. Sekali kita beli, dua kali beli, sepuluh kali beli... lama-lama otak kita berhenti mikir, "Eh, mau beli biskuit merek apa ya?" 

Otak kita langsung ngasih perintah otomatis ke tangan: AMBIL.

Jadi, Mayora itu nggak perlu capek-capek tebar pesona dari nol setiap kali kita masuk toko. Mereka cuma perlu menjaga supaya rutinitas belanja kita nggak putus. Karena buat sebuah merek, berhasil ngunci kebiasaan belanja emak-emak itu nilainya jauh lebih mahal daripada sekadar ngasih potongan harga 20%!


2. Roma Kelapa: Menguasai Momen, Bukan Cuma Rasa


Coba deh tengok meja tamu pas Lebaran, arisan, atau sekadar syukuran RT di kompleks. Biskuit Roma Kelapa ini hampir selalu bertengger manis di dalam kaleng atau piring saji, kan?

Padahal kalau dipikir-pikir, apakah Roma Kelapa ini biskuit yang rasanya paling aneh-aneh atau heboh di dunia? Ya enggak juga. Rasanya sederhana, tapi kekuatannya ada di rasa akrab yang udah nempel di lidah kita sejak dulu.

Posisinya itu fleksibel banget di rumah:

  • Disajikan buat tamu yang mendadak datang? Tetap pantas dan sopan.

  • Buat teman celup teh panas atau kopi Pak Suami pas sore hari? Cocok banget, pas garingnya!

  • Buat ganjal perut anak-anak atau bekal jalan-jalan keluarga? Praktis, nggak ribet.

Nah, karena berhasil menyusup ke berbagai momen kumpul keluarga, Roma sukses mengubah posisinya. Mereka bukan lagi sekadar "salah satu biskuit di rak toko", tapi sudah jadi Default Choice—alias pilihan paling aman dan otomatis saat kita lagi malas mikir mau beli camilan apa.


3. Terjebak dalam Memori Manis Beng Beng

Sumpah, aku salah satu penggemar jajanan manis satu ini! 
Dan hingga kini, sebagai si paling visual, kadang suka terpesona sama kemasannya yang berwarna merah mencolok!

Nah, kalau Roma mainnya di momen kumpul keluarga, Beng-Beng kudapan biskuit wafer dengan lapisan coklatnya yang berpadu dengan aneka kacang dan cereal beras, terbukti paling jago bikin kita kena jebakan Impulse Buying—alias belanja spontan tanpa rencana.

Wafernya itu lho... udah melekat di lidah aku sejak zaman sekolah dulu!

Begitu ditaruh persis di rak pinggir meja kasir minimarket, pertahanan diri kita ku kadang runtuh. Rasa enggan buat keluar uang (friction) mendadak hilang gitu aja, eh tergantung juga ama budget uang belanja loh ya sekarang....

Kalo dulu masih sorangan, niat cuma mau beli sabun mandi atau odol, pas lagi berdiri ngantre di kasir, mata nggak sengaja nengok ke bawah. Begitu ngeliat deretan rapi coklat (ngga cuman Beng beng sih, bisa yang lainnya),  tangan bisa refleks comot satu sambil batin, "Ah, harganya cuma segini ini, cukuplah buat ganjal perut pas nyetir pulang."

Pluk! 

Masuk deh ke kantong belanjaan. Tanpa perlu mikir dua kali, transaksi spontan pun terjadi dengan suksesnya!


4. Energen: Menjual Solusi Sarapan Sat set No Ribet


Ini poin pemasaran yang paling jempolan menurutku.
Energen itu sebetulnya bukan cuma jualan sereal bubuk, tapi menjual solusi kepraktisan.

Kalau brand cuma jualan fitur "minuman sereal gandum", orang bakal gampang ngebandingin harga sama merek sebelah. Tapi ketika Energen memposisikan diri sebagai "Solusi Sarapan Sat set No Ribet", persepsi kita langsung berubah.

Di kepala para IRT atau pekerja yang kejar-kejaran sama jam masuk sekolah atau kantor, Energen adalah penyelamat ngga cuman di pagi hari, bahkan aku ingat pernah mengandalkan Energen ini saat kelaparan pulang kerja!

Jadi yang kita beli itu bukan minuman, tapi beli ketenangan pikiran.

5. Le Minerale: Dobrak Pasar Air Galon & Senjata Rahasia Warung Kompleks

Kasus paling seru tentu saja Le Minerale. 

Waktu mereka nekat masuk ke pasar Air Minum Dalam Kemasan (AMDK), banyak orang—termasuk kita, sempat mikir, "Nekat banget ya, padahal kan pasar air mineral udah dikuasai merek 'raksasa' yang puluhan tahun jadi raja." Diperkirakan bakal layu sebelum berkembang, eh malah melejit!

Mayora ini pinter banget. Mereka paham betul, kalau mau menang, jangan lawan raksasa pakai cara yang sama.

Jadi inget kalimat ikonik Pandji Pragiwaksono "Sedikit lebih beda, lebih baik daripada sedikit lebih baik."

Mereka pancing rasa penasaran kita lewat jargon ikonik "Kayak ada manis-manisnya gitu..." plus nembak isu kebersihan dapur emak-emak lewat konsep galon sekali pakai yang praktis dan nggak perlu capek cuci ulang!


    

Dalam dunia FMCG, mau sebagus apa pun iklannya di TV, kalau pas kita haus atau kehabisan air galon barangnya nggak ada di warung, ya kita pasti beli merek lain.

Makanya, Mayora memastikan Le Minerale ini gampang dicari. Mau di supermarket gede, minimarket, sampai warung Madura pojokan kompleks rumah kita, pasti ada!

Ketika barangnya gampang diingat di kepala (Mental Availability) dan gampang dicomot di warung dekat rumah (Physical Availability), orang udah nggak pusing lagi mikirin beda harga seribu-dua ribu. Perang harga jadi nggak mempan lagi!

Ngomong-ngomong soal warung Madura dan kebiasaan belanja harian, gaya hidup praktis tapi tetap hemat ini sering banget dibahas seru sama kawan saya, seorang
Lifestyle Blogger Madura. 

Memang ya, bijak mengelola pengeluaran harian itu kunci penting dalam menjaga stabilitas keuangan keluarga  supaya nggak bocor halus gara-gara belanjaan spontan!

My tought...

Walaupun strategi Mayora ini kelihatannya kelas raksasa FMCG, jujur aja, prinsip dasarnya ini "daging" banget kalau mau kita terapkan di bisnis atau usaha kecil-kecilan di rumah:

  • Jual Rutinitas, Bukan Cuma Diskonan: Usahakan bikin produk atau jasamu masuk ke sela-sela kebiasaan harian pelanggan. Diskon cuma bikin orang mampir sekali pas murah, tapi rutinitas yang bikin mereka balik lagi dan lagi.

  • Jual Solusi Masalah Harian: Bikin pembeli batin, "Nah, ini dia yang saya butuhin!" atau "Duh, ngebantu banget pas saya lagi repot!" Kayak Energen yang paham kerepotan emak-emak di pagi hari.

  • Bikin Gampang Dicari dan Dibeli: Jangan bikin alur pesan yang ribet. Makin banyak syarat dan berbelit-belit cara belinya, makin males orang order. Bikin prosesnya semulus dan serba praktis.

  • Jangan Terjebak Perang Harga: Sebab kalau satu-satunya alasan orang beli di tempatmu cuma karena harganya murah, siap-siap aja ditinggal pas ada tetangga sebelah yang berani jual lebih murah lagi. Perang harga itu capek dan bikin tekor!

Yuk, Ngobrol di Kolom Komentar!

Pada akhirnya, bisnis yang bertahan dan menang itu bukan selalu yang banting-banting harga paling murah, tapi yang paling akrab di hati dan pikiran kita sehari-hari.

Nah, dari sekian banyak produk 'keluarga' Mayora yang udah kita bedah tadi, mana sih yang paling sering auto-masuk ke keranjang belanjaanmu pas lagi ke minimarket atau warung?

Apakah kamu tim yang wajib nyelup Biskuit Roma Kelapa ke teh hangat sore hari, atau tim yang nggak tahan iman buat comot Beng-Beng pas lagi ngantre di kasir?

Tulis cerita atau pengalaman belanja kamu di kolom komentar di bawah ya! Aku tunggu obrolan hangatnya!


Sumber :

Berikut adalah beberapa referensi buku dan jurnal akademis di bidang Psikologi Konsumen, Behavioral Economics, dan Manajemen Pemasaran/FMCG yang menjadi landasan teori dari konsep-konsep yang dibahas di artikel di atas:

  1. Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow. Farrar, Straus and Giroux.

    • Relevansi di Artikel: Membahas konsep System 1 (berpikir cepat, otomatis, dan tanpa usaha) vs System 2 (berpikir lambat dan analitis). Konsep System 1 inilah yang menjelaskan mengapa konsumen belanja dalam "Mode Otomatis" (Habitual Buying Behavior) tanpa perlu berpikir panjang atau membuat spreadsheet.

  2. Sharp, B. (2010). How Brands Grow: What Marketers Don't Know. Oxford University Press.

    • Relevansi di Artikel: Landasan utama teori Mental Availability (mudah diingat di kepala) dan Physical Availability (mudah ditemukan di rak/warung). Byron Sharp membuktikan bahwa brand besar tumbuh bukan karena loyalitas emosional yang muluk-muluk, melainkan karena kemudahan akses dan familiaritas.

  3. Wood, W. (2019). Good Habits, Bad Habits: The Science of Making Positive Changes That Stick. Farrar, Straus and Giroux.

    • Relevansi di Artikel: Ditulis oleh Wendy Wood (pakar psikologi kebiasaan/habit dari USC). Buku ini membedah bagaimana kebiasaan terbentuk melalui cue (pemicu), routine, dan reward, yang menjadi dasar mengapa produk FMCG seperti Roma atau Energen bisa mengunci rutinitas harian konsumen.

  4. Thaler, R. H., & Sunstein, C. R. (2008). Nudge: Improving Decisions About Health, Wealth, and Happiness. Yale University Press.

    • Relevansi di Artikel: Membahas teori Nudge dan choice architecture (arsitektur pilihan). Penempatan Beng-Beng di dekat meja kasir adalah contoh klasik dari nudge untuk memicu Impulse Buying dengan meniadakan hambatan keputusan (frictionless decision).

Komentar

  1. Sadar atau tidak, banyak camilan Mayora yang menemani momen tumbuh dewasa kita dari kecil sampai sekarang. Kekuatan rasa yang khas dan konsisten itu yang bikin produk mereka selalu jadi top of mind saat cari camilan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asli, setuju banget!

      "Memory muscle" lidah kita tuh kayak udah di-lock sama rasa produk mereka. Mau muncul brand baru sebanyak apa pun, giliran butuh biskuit kelapa ya pikirannya otomatis ke yang itu-itu lagi.

      Konsistensi rasa yang dibalut nostalgia itu emang marketing trick paling genius sih. Thanks Dessy!

      Hapus
  2. Kalau saya, Roma Kelapa ini punya cerita personal sendiri, Mbak Tanti. Biskuit ini mengingatkan saya pada almarhumah Ibu Mertua yang sukaaa sekali Roma Kelapa. Lucunya, anak laki-lakinya alias suami saya ternyata juga penggemar biskuit ini. hihi

    Jadi sampai sekarang Roma Kelapa termasuk yang hampir otomatis masuk keranjang belanja. Bukan lagi sekadar soal rasa atau karena sedang butuh camilan, tapi ada memori keluarga di baliknya. Kayaknya ini yang dimaksud Mbak Tanti soal brand yang berhasil “menempel” di memori dan akhirnya jadi pilihan otomatis.

    Kadang memang begitu ya, sebuah produk bisa punya cerita emosional sendiri. Begitu melihat kemasannya, langsung teringat seseorang atau momen tertentu. Dan tanpa sadar... masuk keranjang lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. MasyaAllah... cerita yang indah banget, Mbak Dian. Thank you ya sudah mau berbagi memori hangat ini.. :)'

      Bener banget, Mbak. Di titik ini, Roma Kelapa udah bukan cuma sekadar biskuit olahan tepung dan kelapa, tapi udah jadi 'mesin waktu' kecil yang menghubungkan ingatan ke almarhumah Ibu Mertua dan suami.

      Brand yang berhasil di level ini emang luar biasa—mereka nggak cuma jualan produk, tapi berhasil menyatu sama silsilah kasih sayang keluarga.

      Al-Fatihah untuk almarhumah Ibu Mertua ya, Mbak Dian. Seneng banget artikel ini bisa jadi jembatan buat mengingat momen manis beliau. Dan... selamat 'terjebak' otomatis masukin Roma Kelapa ke keranjang belanja selamanya! hihi. Hugs ...

      Hapus
  3. Membaca pembahasan Neng Tanti tentang trik rahasia Mayora bermain di memori, sepanjang paragraf saya membathin 'iya juga', hingga tulisan selesai dibaca mendapatkan diri bahwa saya termasuk emak-emak yang sudah terperangkap trik Mayora, karena semua produk yg dibahas di atas, ya gitu deh, 'otomatis' aja. Pernah masanya ter-roma kelapa, ter-energen-energen, ter-beng-beng, dan sekarang ter-lemineral, wkwkwk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwkwk Salmaaa, aku ketawa baca bagian “ter-Roma Kelapa, ter-Energen-Energen, ter-Beng-Beng, dan sekarang ter-Le Minerale” 🤣

      Berarti memang teori di artikel ini bukan sekadar teori ya, Sal… bukti empirisnya sudah ada di dapur kita masing-masing! 😂 Ternyata Mayora berhasil bikin kita bukan cuma kenal produknya, tapi sampai level “nggak perlu mikir, tangan otomatis ambil.” Persis yang aku bahas soal "habitual buying behavior dan default choice"....

      Hapus
  4. Ilmu PR, sales, dan marketing tuh jalannya sepanjang masa. Karena bukan masalah like or dislike, tapi juga selera masyarakat, kualitas produk, daya beli mereka, dan juga bagaimana soliditas dan konsistensi tim produsen, termasuk urusan politik.

    Jadi kita gak bisa langsung mengambil kesimpulan bahwa faktor A, B, atau C sebagai penentu berhasil atau tidaknya sebuah jenama diterima oleh masyarakat. Karena itu di setiap produsen, tim SM dan PR dibentuk berdasarkan jenis produknya. Bela-belain bangun tim raksasa dengan ahlinya supaya SM dan PR bekerja sesuai harapan.

    Dan ini bukan pekerjaan yang mudah loh. Time and energy consuming betul. Tapi sangat menarik buat diulas dan dipelajari.

    BTW, font lo kok kecil amat seh. Ya ampun mata gue sampe micing-micing bacanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju banget An. Justru itu yang bikin dunia marketing menarik—nggak bisa cuma bilang, “Oh, produknya laku karena iklannya bagus.” Di belakang satu merek yang bisa bertahan puluhan tahun ternyata ada begitu banyak variabel: selera, daya beli, kualitas, strategi komunikasi, konsistensi, tim, sampai situasi sosial dan politik. Jadi memang nggak sesederhana yang kelihatan dari luar.

      Dan bener banget, pekerjaan PR dan marketing itu time and energy consuming tapi sekaligus bikin penasaran. Makin dibedah, makin kelihatan bahwa satu keputusan kecil di balik sebuah brand bisa punya efek panjang banget.

      Tapiii… dari sekian panjang dan bernasnya komentar lo, yang paling bikin gue terdiam justru: “FONT LO KOK KECIL AMAT SEH.” 😭😭😭

      Baiklah, Bu Dosen. Kritik diterima. Mata pirsawan harus diselamatkan. Next artikel font-nya gue gedein, biar ilmunya masuk dan retina tetap aman. ❤️

      Hapus
  5. Mayora termasuk produk legend yang perusahaannya udah berdiri sekitar 1977. Hampir semua produknya itu sesuai dgn selera masyarakat Indonesia secara mayoritas. Semakin mencuri perhatian sekarang pasarnya pun udah merambah global. Kaya Kopiko yang gencar banget terselip di drama-drama korea populer

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mayora memang menarik karena kalau dibedah lebih jauh, keberhasilan sebuah brand ternyata nggak pernah sesederhana “iklan bagus = laris”. Ada riset pasar, product development, strategi marketing, PR, distribusi, sampai kemampuan membaca selera konsumen yang semuanya harus jalan bareng.

      Dan Kopiko ini memang salah satu contoh yang menarik banget. Dari yang awalnya identik dengan “permen kopi teman perjalanan”, sekarang bisa nyelip di drama Korea dan dikenal sampai pasar global. Strateginya panjang dan definitely bukan kerjaan semalam

      Hapus
  6. Mayora ini salah satu perusahaan yang bikin bangga Indonesia
    Kopiko, salah satunya produknya. sering banget masuk ke adegan drama Korea
    sampai kelihatan banget ngiklannya
    Produknya emang oke sih, sampai saat ini saya selalu setia dengan Roma Biskuit Kelapa nya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mayora memang salah satu contoh perusahaan Indonesia yang berhasil membawa produk lokal sampai dikenal luas, bahkan Kopiko bisa “nebeng eksis” di drama Korea dan masuk ke dalam adegan cerita secara natural. Itu strategi branding yang menurutku keren banget—produknya bukan cuma muncul sebagai iklan, tapi ikut menjadi bagian dari kehidupan si karakter.

      Dan Roma Kelapa ini memang susah move on yaa. 😂 Ada aroma dan rasa yang kayak langsung mengaktifkan memori masa kecil. Mungkin justru itu salah satu kekuatan Mayora: produknya bukan sekadar makanan, tapi sudah punya tempat di memori konsumennya.

      Hapus
  7. Kalau di rumah daku, Roma Kelapa itu teman celap-celupnya pakai air putih Mak Neng, soale rasa gurih dan manisnya roma Kelapa ga kebanting, tetap asli. Kalau pakai teh atau kopi malah jadinya nabrak sih yang daku rasakan, alias cenderung jadinya rasa romanya ga terasa.

    Btw, daku pernah datang langsung ke pabriknya Mayora yang di Daan Mogot, ya ampun mupeng banget sama produknya, karena daku suka semua haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmmm...masuk akal juga sih, karena rasa gurih-manis kelapanya jadi tetap stand out, nggak “berantem” sama rasa teh atau kopi.

      Tapiii bagian pernah datang ke pabrik Mayora di Daan Mogot itu yang bikin aku mupeng! Kebayang masuk pabriknya, terus lihat produk berseliweran… iman langsung diuji antara mau jadi pengunjung atau minta direkrut jadi distributor. wkwkkwkk

      Hapus
  8. Beng-beng itu punya memori kuat banget karena pas hamil si sulung dan muntah hebat, perut saya hanya bisa menerima beng-beng. Tidak untuk ditiru tapi ya mau bagaimana lagi, daripada tidak ada makanan yang bisa masuk sama sekali.

    Makanya sampai sekarang pun tiap ada kesempatan masih nyomot beng-beng atau menyengaja beli sepak.

    Ternyata banyak juga produk mayora yang jadi top brand ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. wooow Nisa penyuka bengbeng? Sini sini tak kirimin beng beng se-pack!

      Hapus
  9. Produk Mayora yang paling keingat sama saya tuh ya Roma Kelapa sama Biskuit Better. Better tuh favorit banget sejak kecil, sampai ukurannya sekarang makin kecil wkwk. Nah justru saya gak ngeh bahwa Beng-beng dan Le Minerale tuh produknya Mayora.

    BalasHapus
  10. Salah satu brand yg aku sukaaaa banget. Krn memang produk2 nya itu lebih ke memory berkesan, sehingga tiap datang yg dibeli ya itu lagi itu lagi. Ditambah pula makin kesini, aku tuh makin malas coba2 mba.

    Drpd beli produk baru yg belum jelas enak kan, lebih suka ambil yg pasti2 aja. Dan produk mayora yg udh lama, sejak kita kecil, malah bikin ga bosan untuk dibeli

    Pastinya kayak bengbeng ini fav ku juga 😄

    BalasHapus

Posting Komentar

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)

Postingan Populer