Dua Kota, Dua Cerita


Bogor dan Jogja dalam Album Kenangan Keluarga Kami

Ada masa di hidup saya di mana liburan itu bukan lagi tentang checklist tempat viral, tapi tentang… “Kapan lagi kita bisa bareng-bareng kayak gini?”

Sebagai ibu usia 50-an dengan anak-anak yang sudah punya dunianya masing-masing, momen pergi bersama itu rasanya priceless banget. Jadi ketika kami pergi ke Bogor, dan di waktu yang berbeda ke Jogja, dua-duanya punya warna sendiri. Nggak bisa dibandingkan. Nggak perlu dibandingkan.

Dua-duanya indah. Dua-duanya menyisakan rindu.

Bogor: Liburan Singkat yang Diam-Diam Dalam

Foto edited by Gemini

Bogor itu buatku bukan sekadar kota hujan. Dia tuh kayak tempat jeda. Tempat napas bisa lebih panjang, karena kotanya tuh kayak anak gadis, cakep dan polos gitu..

Waktu itu diundang adiknya bang Dho, yang dikenal anak-anak dengan sebutan Om Opik, dan ini tuh cuma short escape. Dan terbukti ini tuh jadi escape yang maniiisss banget! Ini tuh jadi quality time buat kami sekeluarga. Jadi Bogor adalah pilihan paling realistis, sekaligus jadi salah satu destinasi wisata keluarga yang selalu aman buat segala usia.

Pagi itu, udara masih dingin tipis-tipis. Kami jalan santai di Kebun Raya. Anak-anak yang biasanya sibuk dengan dunia digitalnya, tiba-tiba sibuk foto-foto pohon besar. Ironis tapi manis. Saya lihat mereka ketawa, saling jahilin, rebutan angle foto.

Dan di situ saya sadar:
liburan bukan soal tempatnya, tapi siapa yang ada di sebelah kita.

Kami makan siang sederhana, ngopi sore sambil ngobrol ngalor-ngidul. Nggak ada drama. Nggak ada debat serius. Cuma obrolan ringan yang bikin hati ringan.

Kalau ditanya, Bogor itu masuk kategori destinasi wisata keluarga yang ideal banget buat yang pengen healing tanpa ribet. Mau cari referensi tempat lain yang family friendly juga, biasanya saya suka intip rekomendasi di destinasi wisata keluarga karena pilihannya cukup variatif dan nggak cuma yang mainstream.

Bogor mengajarkan saya satu hal:
kebahagiaan itu seringnya sederhana, asal kita nggak kebanyakan ekspektasi!

Jogja: Perjalanan yang Lebih Dalam dari Sekadar Liburan

    


Kalau Bogor itu jeda, Jogja itu perjalanan batin.

Kami ke Jogja di waktu yang berbeda. Bukan short escape. Lebih ke perjalanan yang memang diniatkan, karena melibatkan keluarga besar bang Dho, yaitu  The Satiris Family.

Dan itu tentu saja sangaaat berkesan!

Kebayang gak, sih, saat itu si cantik sedang di Ciputat, dah gitu lagi sakit demam! Sementara kami berempat di Tangerang, dan perjalanannya tuh start di Slipi, supaya di tengah-tengah gitu, kecuali bang Ghofur yang di Purwokerto, mereka  sekeluarga berangkat langsung ke Yogya.

Kami pun berangkat naik bus pukul 10 malam, supaya tiba di  Yogya pagi. Karena maceeet total, kami tiba di kota yang selalu punya cara bikin orang jatuh cinta itu pukul 12 siang!

Jogja itu pelan. Tapi dalam.

Rundown acara super padat dan udah pernah aku ceritain juga di sini.

Semua perjalanan di Yogya ini super duper sweeet banget, sampe kebayang terus loh, dan alhamdulillah anak-anak juga suka dan menikmati sekali perjalanan demi perjalanan.

Yang paling lucu, waktu "mau ngga mau" ke Malioboro. Jadi itu momen yang sebenernya enggak banget, tapi eeh kalo diinget-inget sekarang malah jadi lucu. Jadi, karena pulang dari Merapi ke hotel itu maceeetttt total dan udah pada kebelet pipis semua, kami memutuskan untuk pulang jalan kaki! Pilihan yang rada nggilani karena ternyataaaa.. kami salah jalan, jadi menelusuri jalanan Malioboro itu salah arah! Ghubrak kan! Ghubrak ngga tuuuh..

Mana jalan kakinya sepulang dari bepergian ke Merapi, dan itu udah di hari terakhir yang super capeeek... ya udah, sambil jalan pulang ke hotel, kami beli bakpia, lah beli sandal, lah..  Tawar-menawar batik. Ketawa karena salah sebut harga. Capek? Iya. Tapi capek yang bahagia.

Di Yogya, aku memang merasa waktu nggak terburu-buru. Kami ngobrol lebih panjang. Cerita masa kecil mereka keluar lagi. Aku yang biasanya "kuat" (keturunan Wonder Woman dari garis samping sebelah sono), tiba-tiba mellow. Iiih, kok anak-anak ini sudah besar, ya?

Jogja bukan cuma kota wisata. Dia adalah ruang refleksi.

Dan kalau bicara soal merencanakan perjalanan seperti ini, saya belajar banyak soal tips liburan supaya perjalanan tetap nyaman tanpa overbudget dan overdrama. Pokoke biasain baca-baca juga deh yaa, buat cari insight tambahan, terutama soal itinerary fleksibel dan manajemen energi keluarga.

Karena percaya deh, traveling sama keluarga itu bukan cuma soal uang dan waktu. Tapi juga soal kesiapan hati.

Yang Paling Berkesan Itu Bukan Cuman Tempatnya

Kalau ada yang tanya, “Lebih enak Bogor atau Jogja?”

Saya nggak bisa jawab.

Bogor itu hangat dan ringan.
Yogya itu dalam dan emosional.

Dua-duanya menyimpan potongan cerita keluarga kami.

Di Bogor saya belajar menikmati yang dekat.
Di Yogya saya belajar mensyukuri yang masih ada.

Dan sebagai ibu, saya cuma punya satu doa sederhana setiap kali bepergian bersama mereka:

semoga di masa depan, ketika anak-anak sudah sibuk dengan hidupnya masing-masing, mereka ingat momen-momen ini.

Bukan karena fotonya estetik.
Bukan karena tempatnya viral.
Tapi karena kita pernah benar-benar hadir satu sama lain.

Liburan terbaik bukan yang paling jauh.
Tapi yang paling terasa.

Dan di dua kota itu… kehangatan dan cinta terasa sekali. 🤍

Komentar

Postingan Populer