Berkunjung ke Gumpang, Melihat Sentra UMKM Solo
Berawal dari ngobrol dengan Elisa Koraag atau yang akrab disapa Buncha, dan tadinya aku melontarkan keinginan untuk bisa membentuk sebuah komunitas yang isinya perempuan yang usianya jelita (jelang lima puluh tahun) atau bahkan lolita (lolos lima puluh tahun). Tapi ya gitu deeeh, secara ya saya anaknya punya banyak ide tapi suka minim eksekusiiii...
Nah, ternyata Buncha sudah punya wacana tersendiri yang menurutku unik, yaitu bersama perempuan yang gemar mengenakan busana tradisional, bisa kebaya , songket, atau lainnya!
Ternyata Buncha tidak main-main, karena dari awal dibentuk, visinya jelas: melestarikan budaya, tapi dengan cara yang hangat, hidup, dan relevan. Jadilah, setelah diresmikan di Susia Garden Kalibata tanggal 3 Desember 2022 lalu, Buncha langsung mengadakan gathering kedua ke Solo.
Ditetapkan tanggal 14–17 Desember 2022, dan akan diikuti oleh sekitar 25 perempuan berkebaya di dalam komunitas! Waah, bisa kebayang kan, itu bukan sekadar jalan-jalan. Itu semacam “uji nyali” seberapa serius sih kami mau konsisten pakai kebaya, bukan cuma buat konten, tapi buat hidup sehari-hari?
PPBN Roadtrip: Solo – Yogya, Kebaya on the Move
Hari Rabu, 14 Desember 2022, kami berangkat dari tiga titik kumpul berbeda dengan dress code colorful, bebas tapi tetap niat. Jujur saja, sebagian besar dari kami belum terlalu akrab. Baru ketemu satu-dua kali. Kecuali aku dan founder PPBN, yaitu Buncha. Jadi perjalanan ini rasanya campur aduk: antara excited, deg-degan, dan sedikit awkward tapi seru.
Tepat pukul 07.00 WIB, mobil Elf yang kami tumpangi meluncur menuju Solo. Karena isinya ibu-ibu, jangan tanya logistiknya. Air mineral sekardus, bihun goreng buat sarapan dari Bu Robi, keripik, snack, permen, waaah.. pokoknya survival kit lengkap. Kalau macet pun, kami sudah pasti nggaak akan kelaparan!
Perjalanan cukup lancar. Beberapa kali kami berhenti di rest area untuk meregangkan kaki yang mulai protes.. maklum ya buuun, yang ikut usianya semua sudah di atas 45 tahun!
Sekitar pukul 18.00 WIB, kami tiba di kawasan Kartasura, Solo, dan langsung menuju rumah Ibu Hj. Robiyatun, ibu tuan rumah kami.
Rumah Bu Robi unik. Menyatu dengan PAUD miliknya, PAUD Ar Robiyya. Rumah ini memang jarang ditempati karena beliau tinggal di Jakarta, tapi justru itu yang bikin tempat ini terasa seperti “rumah singgah budaya” karena tenang, luas, dan penuh cerita.
Malam itu, setelah bersih-bersih dan menunaikan ibadah, kami makan malam di tempat yang literally sebelah rumah: Resto Lumpang Watoe milik Bu Robi sendiri.
Restonya vibes vintage banget. Perabotan jati besar, suasana hangat, apalagi malam itu hujan turun tipis-tipis. Menu andalannya? Bebek kremes. Bebek pilihan yang sudah cukup umur, diungkep tujuh jam dengan rempah alami. Dagingnya empuk tapi tidak hancur, bumbunya meresap sampai ke tulang. Dan sambalnya? Pedasnya tuh bukan sekadar pedas, tapi pedas yang bikin kita nambah sambal sambil berkaca-kaca.
Usai makan, malam ditutup dengan sesi santai. Bu Fifi dan Bu Endang unjuk suara. Kami tertawa, bernyanyi, dan di momen itu, rasa canggung perlahan hilang. Kami mulai merasa seperti keluarga.
Hari Kedua: Kebaya, Embun, dan UMKM Desa
Kamis pagi, 15 Desember 2022. Embun masih setia menempel di daun-daun, tapi rumah Bu Robi sudah ramai. Ada yang antre kamar mandi, ada yang mulai berdandan. Hari ini kami resmi mengenakan kebaya seragam: kebaya jumputan warna-warni dengan kain batik.
Dan percaya atau tidak, rasanya beda. Kebaya bukan lagi kostum acara resmi. Kami pakai untuk jalan, untuk belajar, untuk berinteraksi. Ada rasa bangga, tapi juga ada kesadaran: ini komitmen.
Pukul 07.00 kami berkeliling Desa Karangasem, Gumpang, melihat UMKM binaan Bu Robi. Ternyata, beliau punya mimpi sederhana tapi powerful: setiap rumah di sekitar harus punya usaha. Jangan cuma bergantung pada sawah yang makin menyempit.
Kami melihat usaha kerupuk rambak, rengginang, bordir, hingga kaos print motif Papua. Rengginangnya gurih, asin legitnya pas. Bukan cuma soal rasa, tapi soal perjuangan di baliknya.
Setelah puas berkeliling, kami sarapan nasi liwet di rumah Bu Robi yang lain. Harus naik mobil dulu, lalu jalan kaki menyusuri gang kecil. Rasanya seperti kembali ke kampung halaman yang hangat, sederhana, tapi meaningful.
The Heritage Palace: Kebaya Ketemu Eropa
Destinasi berikutnya: The Heritage Palace di Sukoharjo.
Dengan tiket terusan sekitar 75 ribu rupiah, kami masuk ke kompleks bekas Pabrik Gula Gembongan yang berdiri sejak 1892. Bangunannya bergaya Art Deco dengan sentuhan Eropa klasik. Cerobong asap setinggi 20 meter masih berdiri gagah, jadi saksi sejarah panjang tempat ini.
Alih-alih menyeramkan seperti bayangan pabrik tua, tempat ini justru terasa artsy dan edukatif. Mobil-mobil kuno berjajar rapi di area The Garage. Ada red phone booth ala Inggris. Spot fotonya banyak banget, dan kami tentu saja dengan kebaya jumputan warna-warni, langsung jadi pusat perhatian!
Rasanya unik. Kebaya tradisional berdiri di antara bangunan kolonial bergaya Eropa. Seolah sedang berdialog antara masa lalu dan masa kini. Kami bukan sekadar berfoto, tapi membawa pesan: budaya bisa hadir di mana saja, bahkan di ruang yang modern dan “kekinian”.
Area seluas 2,2 hektar ini kini menjadi destinasi keluarga sejak dibuka kembali tahun 2018. Ada tempat duduk yang nyaman, tenant makanan, sampai toko merchandise. Jadi kalau lelah, tinggal rehat, minum es teh, lanjut lagi eksplor.
Hari kedua ditutup dengan tawa, foto, dan obrolan panjang di perjalanan pulang ke rumah Bu Robi. Kami belum selesai, masih ada agenda ke Colomadu, Ndalem Kalitan, dan Masjid Raya Sheikh Zayed.
Tapi satu hal sudah terasa jelas: ini bukan cuma trip. Ini proses. Proses saling mengenal, menguji komitmen, dan membuktikan bahwa kebaya bukan sekadar simbol. Ia bisa hidup, bergerak, dan ikut roadtrip.
Dan percaya deh, ibu-ibu berkebaya jalan-jalan itu bukan kalem-kalem manja. Kami heboh, rame, penuh tawa tapi tetap anggun. Multitasking? Sudah pasti.
Sepertinya masih akan ada cerita selanjutnya, tungguin yaa!


.jpg)







Komentar
Posting Komentar
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)