Batu Marmer dan Senjata Bernama Impian
Ada masa di mana layar gawai terasa seperti tempat yang paling menakutkan di dunia. Riuh suara, hujatan, dan keraguan orang-orang seolah menjadi badai yang siap merobohkan apa pun yang sedang kubangun secara autodidak. Jatuh bangunnya sakit, berdarah-darah, dan membuatku hampir kehabisan napas di tengah rasa desperate.
Tapi di titik paling gelap itu, aku disadarkan pada satu hal: aku tidak pernah benar-benar berjalan sendirian.
Aku punya Sang Pemilik Semesta yang tak pernah berpaling, dan support system terbaik dalam hidupku : Ibu, suami, adik-adik, serta anak-anakku. Tak lupa, keluarga besar bang Dho, para manusia super yang dilahirkan juga dari orangtua (Al fatihah untuk Ayah dan Ummi mertuaku) yang hebat . Mereka selalu suportif, selalu ada satu sama lain, dan selalu memeluk di kala suka dan duka :)
Senyum dan pelukan merekalah yang membuatku berhenti merutuki luka, lalu mulai merenung dalam penuh rasa syukur. Tanpa sadar, hangatnya kasih sayang mereka membendung ketakutanku dan mengubahnya menjadi keberanian baru..
| David by Michelangelo picture source : Ignazio Ruzzi |
Patung-patung marmer paling agung di dunia tak pernah langsung dipajang di museum dengan indah. Ia harus dicabut paksa dari perut gunung, dipotong kasar, dihantam pahat, dikikir, hingga dipajang di bawah sorotan cahaya yang menyengat demi menguji batas ketahanannya. Semua sakit dan gesekan itu bukanlah cara semesta untuk menghancurkan, melainkan proses mengasah, membuang bagian-bagian yang tak perlu agar keindahan sejatinya bisa memancar.
El beso de Rodin, Museo de Rodin, Paris |
Aku kutip dari Philadelphia Museum of Art, beberapa patung marmer paling legendaris kelas dunia seperti David karya Michelangelo (yang dipahat dari satu blok marmer cacat yang sempat dibuang dan ditolak oleh seniman lain selama berpuluh tahun), Pietà yang menampilkan detail kelembutan kain dan kepasrahan yang luar biasa, hingga The Kiss karya Auguste Rodin yang menghidupkan marmer dingin menjadi lekuk tubuh beremosi hangat, semuanya tidak lahir dari proses yang tenang.
Di titik ini, pencerahan itu akhirnya datang bertubi-tubi. Jalanku yang sesungguhnya mulai terkuak lebar, lengkap dengan team hebat yang kini berjalan berdampingan.
Ke depan, jalannya tentu masih belum akan mudah. Masih ada begitu banyak target yang harus ditaklukan, masih butuh proses panjang untuk mewujudkan dan memanifestasikan setiap ide menjadi kenyataan. Kita akan terus berjalan hingga sadar: manusia memang tak akan pernah mencapai kata sempurna.
Kalau mau jujur pada diri sendiri, jalan terjal dan babak belur ini sebenarnya juga hadir karena sifat keras kepala dan idealismeku sendiri. Kadang, rasa percaya diriku yang begitu besar menyala luar biasa.. hingga tak jarang orang yang belum kenal menyimpulkannya sebagai "sombong" :( 😐😐😐
Padahal mereka tak tahu, di balik tampilan luar yang sekuat Rambo ini, ada hati selembut salju yang cuma ingin membuktikan satu hal :
Aku hanya ingin membuktikan pada Almarhum Bapak, bahwa anak perempuannya ini suatu hari nanti bisa mengelilingi dunia dengan kemampuan dan karya tangannya sendiri. Aku cuma ingin membuat Bapak tersenyum bangga.
Bapak memang sudah berpulang sebelum aku sempat menggenggam impian itu secara utuh. Tapi langkahku tidak akan berhenti di sini. Di setiap tetes keringat, kerja keras, dan impian yang sedang kumanifestasikan, selalu ada seribu doa yang kutitipkan untuk Bapak di sana. Aku percaya Bapak melihatku, dan aku akan terus berjalan sampai impian ini mewujud nyata.
Aku akan membuat Ibuku (insya Allah sehat sehat ya Bu, nanti kita umroh bareng lagi yaa:)) dan Bapak bangga dari tempat terindah-Nya...
Teruslah melangkah dan memahat karya terbaikmu. Kamu sudah sejauh ini, dan yang terbaik baru saja dimulai.


Komentar
Posting Komentar
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)