jangan kubur impianmu



Aku paham sekarang.
Jalan seorang pemimpi memang kadang harus dibuat segitu terjal, tajam, dan berliku. 

Batu Marmer dan Senjata Bernama Impian

Ada masa di mana layar gawai terasa seperti tempat yang paling menakutkan di dunia. Riuh suara, hujatan, dan keraguan orang-orang seolah menjadi badai yang siap merobohkan apa pun yang sedang kubangun secara autodidak. Jatuh bangunnya sakit, berdarah-darah, dan membuatku hampir kehabisan napas di tengah rasa desperate.

Tapi di titik paling gelap itu, aku disadarkan pada satu hal: aku tidak pernah benar-benar berjalan sendirian.

Aku punya Sang Pemilik Semesta yang tak pernah berpaling, dan support system terbaik dalam hidupku : Ibu, suami, adik-adik, serta anak-anakku. Tak lupa, keluarga besar bang Dho (Al fatihah untuk Ayah dan Ummi mertuaku). 

Aku juga bersyukur ada di beberapa circle pertemanan. Beberapa sahabat tetap  menyemangati dan tak langsung menyalahkan. Senyum dan pelukan (plus "keplak" menyadarkan) banyak orang inilah,  yang membuatku berhenti merutuki luka, lalu mulai merenung dalam penuh rasa syukur. 

        "Well... setiap manusia itu tak pernah luput dari kesalahan, ma Neng.." Indah,    sahabat sejati  sejak di kampus Serpong menyadarkan.

        "Ya udah, elo kan sekarang rasanya gak karuan nih.. udah merasa guilty lah, merasa malu lah, merasa under everything. Coba lo tidur, terus bangun tidur lo liat sekeliling lo. Masih sama, kan?" Lia tersenyum, di antara kepulan asap rokoknya. Aku terpana. Iya juga ya..

        "Semua manusia itu punya kok lubang hitamnya masing-masing. Lo punya, gw punya, bahkan ustadzah se-terkenal mama Dedeh mungkin juga punya!" 

        Tuty Queen di kesempatan lain berkata, "Santai lah, Maaak.. Mau ke manapun kita, Mak.. kalau orang udah nggak suka, ya udah ngga suka aja. Kita cari yang suka ama kita aja..." ia tutup dengan senyum simpul yang menawan.

Yes, ternyata yaa ... semua manusia punya masalahnya masing-masing, karena disitulah pahatan tersulit sedang dibentukkan pada pualam yang keras.

And it was so obvious, di tengah duka, jelas terlihat siapa yang masih ada, dan siapa yang pergi.  Yang kupikir "sahabat" ternyata bukan, ya udahlah yaaa.. 

Manusia emang suka bandel.
Ia sudah tahu dan diberi rambu-rambu bahwa rumahnya di ujung jalan Menteng, tapi masih nekad aja ke Menteng lewat Rawamangun. Kan, jauuuh....

Udah gitu, pada saat ditegur Semesta, masih ngeyel lewat jalan situ lagi, sampai akhirnya satu persatu harus dihilangkan dan "dimurnikan" supaya jalannya akhirnya lempeng (lurus) ke sana!

Because the best marble statue is never made in a day

David by Michelangelo 
picture source :   Ignazio Ruzzi

Patung-patung marmer paling agung di dunia tak pernah langsung dipajang di museum dengan indah. 

Ia harus dicabut paksa dari perut gunung, dipotong kasar, dihantam pahat, dikikir, hingga dipajang di bawah sorotan cahaya yang menyengat demi menguji batas ketahanannya. Semua sakit dan gesekan itu bukanlah cara semesta untuk menghancurkan, melainkan proses mengasah, membuang bagian-bagian yang tak perlu agar keindahan sejatinya bisa terbentuk.

Sulitkah?
Pastiiii.... bestie! Sulit pake banget. 

Kata orang Betawi Ora : "Jangan kata" ngomong tentang "pencapaian" impian, mengikhlaskan sesuatu yang BUKAN JALANMU aja itu setengah mati rasanya .... padahal udah dikasih tau dari jaman Aa Gym -seorang dai kondang - bahwa "Kita tu di dunia ibarat hanya seorang tukang parkir, semua mobil yang mondar mandir di parkiran itu bukan punya kita, loh!" 


El beso de Rodin, Museo de Rodin, Paris

Aku kutip dari Philadelphia Museum of Art, beberapa patung marmer paling legendaris kelas dunia seperti David karya Michelangelo (yang dipahat dari satu blok marmer cacat yang sempat dibuang dan ditolak oleh seniman lain selama berpuluh tahun), Pietà yang menampilkan detail kelembutan kain dan kepasrahan yang luar biasa, hingga The Kiss karya Auguste Rodin yang menghidupkan marmer dingin menjadi lekuk tubuh beremosi hangat, semuanya tidak lahir dari proses yang tenang. 

Kelebihan utama dari mahakarya marmer dunia ini, membuktikan bahwa di balik batu yang tadinya kasar dan keras, ada sebuah "keindahan abadi" yang sedang menunggu untuk dibebaskan

Di titik ini, pencerahan itu akhirnya datang. Jalanku yang sesungguhnya mulai terkuak lebar, lengkap dengan team hebat yang kini berjalan berdampingan.

Ke depan, jalannya tentu masih belum akan mudah. Dan itu bener, aku se-pede itu sampe harus dikeplak lagi... udah kutulis juga di sini :

Hikmah di Balik Sekantong Lauk Yang Jatuh di Jalan

Masih ada begitu banyak target yang harus ditaklukan, masih butuh proses panjang untuk mewujudkan dan memanifestasikan setiap ide menjadi kenyataan. Kita akan terus berjalan hingga sadar: manusia memang tak akan pernah mencapai kata sempurna.

Dan justru di situlah letak keindahannya. 
Di celah ketidaksempurnaan itulah... IMPIAN bekerja.

Aku tautkan sebuah video yang inspirasional dari bang Pandji Pragiwaksono yaaa


Kalau mau jujur pada diri sendiri, jalan terjal dan babak belur ini sebenarnya juga hadir karena sifat keras kepala dan idealismeku sendiri. Kadang, rasa percaya diriku yang begitu besar menyala luar biasa.. hingga tak jarang orang yang belum kenal menyimpulkannya sebagai "sombong" :( 😐😐😐

Padahal mereka tak tahu, di balik tampilan luar yang sekuat Rambo ini, ada hati selembut salju yang cuma ingin membuktikan satu hal : 

Aku hanya ingin membuktikan pada Almarhum Bapak, bahwa anak perempuannya ini suatu hari nanti bisa mengelilingi dunia dengan kemampuan dan karya tangannya sendiri. Aku cuma ingin membuat Bapak tersenyum bangga.

Bapak memang sudah berpulang sebelum aku sempat menggenggam impian itu secara utuh. Tapi langkahku tidak akan berhenti di sini. Di setiap tetes keringat, kerja keras, dan impian yang sedang kumanifestasikan, selalu ada seribu doa yang kutitipkan untuk Bapak di sana. Aku percaya Bapak melihatku, dan aku akan terus berjalan sampai impian ini mewujud nyata. 

Aku akan membuat Ibuku (insya Allah sehat sehat ya Bu, nanti kita umroh bareng lagi  yaa:))  dan Bapak bangga dari tempat terindah-Nya...


Teruslah melangkah dan memahat karya terbaikmu. Kamu sudah sejauh ini, dan yang terbaik baru saja dimulai.

Komentar

  1. Yah, begitulah. Kadang bahkan udah tahu kalau jalan menuju kebahagiaan itu terhalang, berliku, bergelombang dan penuh tantangan, tinggal dijalani dengan sabar. Cuma sabarnya itu yang susah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, iya banget. Rasanya teori itu sering jauh lebih gampang daripada praktiknya. Kita tahu harus sabar, harus ikhlas, harus percaya semuanya bakal indah pada waktunya. Tapi pas lagi ada di tengah prosesnya, rasanya pengin nanya terus, "Kapan selesai ya, Allah?"

      Hapus
  2. Artikelnya mendalam banget. Dari cerita marmer, mulai dari asal usul marmer hingga pahatan maha karya dari Michelangelo. Dari batu dipotong dari tebing, menjadi karya yang detail dan lembut. Dianalogkan dengan sangat halus, itulah impian kita. Terwujud tidak instan, tetapi mungkin baru sekarang-sekarang, diusia yang tidak muda. Bahkan orang terkasih kita, tidak bersama kita lagi...
    Jadi bercermin ke diri sendiri...Ayah-Ibuku, Ayah-Ibu mertuaku, udah engga ada semua, mudah-mudahan bangga juga dari tempat terindah-Nya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga ikut terharu membaca refleksi yang Hani tuliskan. Memang ya, kadang impian baru menemukan jalannya ketika usia kita sudah tidak lagi muda. Mungkin proses panjang itulah yang sedang "memahat" kita, sama seperti marmer yang akhirnya menjadi karya indah.

      Insya Allah, aku yakin Ayah, Ibu, juga Ayah dan Ibu mertua Hani sedang tersenyum bangga dari tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga semua doa, perjuangan, dan kebaikan yang mereka tanamkan terus menjadi bekal bagi langkah selanjutnya. Aamiin.

      Hapus
  3. selama ini saya masih bertahan hidup karena punya impian
    Jika tidak mungkin bakal mental saya bakal terganggu karena mengalami KDRT
    Berkat impian, kita bisa maju setapak demi setapak
    gapapa impian tak terwujud, minimal kita bisa mencapai eksistensi diri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setujuuu ambuuuu.. tugas kita berusaha dan berdoa dan hasilnya bisa tercapai atau tidak itu sudah urusan Allah SWT yang memberikan terbaik

      Hapus
    2. Setuju Ambu, kagum sama perjuangan Ambu dan anak anak Ambu .. insya Allah berkah Nya melimpah yaaa .. peluukkkk

      Hapus
    3. Luar biasa Ambu masih bisa bertahan karena KDRT. Sudah sembuh dari luka masa lalu aja udah luar biasa sekali ya. Masha Allah.

      Hapus
  4. Dalam dan amat realistis banget ini sih artikelnya. Ada istilah juga: berlian yang berkilau meski jatuh ke lumpur tidak akan kehilangan harga mahal dan pesonanya.

    Terkadang kepahitan hidup justru hadir untuk lebih menguatkan langkah yang sempat stagnan. Aamiin, mudah-mudahan bisa umroh lagi sama Ibu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aaamiiin yaa Allah thankyou Lalaaaa doanya yang indah

      Hapus
  5. Betul banget kak dukungan keluarga inti memang besar banget pengaruhnya ditengah orang-orang yang meragukan kemampuan kita ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Aisyah.. ga kebayang tanpa support system yang hebat ini (:::::

      Hapus
  6. Justru jalan terjal, berliku dan penuh rintangan itulah yg membuat seseorang menjadi lebih kuat, namun terkadang sebagian orang tidak menyadari jutru menyalahkan Tuhan, merasa hidup tidak adil. Tapi ya namanya manusia tentu beda2 sifat dan wataknya, ada yg bisa kuat menghadapinya, ada juga yg lemah. Namun, apapun itu rintangan dalam hidup yg kita hadapi, semoga saja kita senantiasa diberi perlindungan dan pertolongan.

    BalasHapus
  7. Menarik banget, saya baru tahu kalau David dipahat oleh Michaelangelo di marmer yang pernah dianggap cacat dan ditolak pematung lainnya. Sekarang malah jadi mahakarya.

    Semangat terus mbak Tanti. Semoga terwujud apa yang dicita-citakan. Tentunya keluarga yang jadi suporter utama pasti bangga, termasuk yang sudah berpulang.

    BalasHapus
  8. Judulnya sangat puitis dan reflektif. Metafora "batu marmer" dan "impian" menjanjikan sebuah esai naratif yang menggugah emosi, khas gaya tulisan personal blogger yang mampu menarik hikmah mendalam dari analogi benda-benda di sekitar kita untuk mendefinisikan perjuangan hidup.

    BalasHapus

Posting Komentar

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)

Postingan Populer