Menguliti Mantra Komersial The Den Baguse Raminten, Si Paling Viral


Sayup-sayup, suara gending gamelan mengalun,
berebut ruang dengan riuh rendah tawa pengunjung yang memenuhi hampir setiap sudut meja lowong.

Aroma dupa dan semilir wangi melati langsung menyergap indra penciuman begitu saya melangkah melewati pintu masuk. 

Di sudut ruangan, sebuah lampu petromaks tua bergetar pelan, memantulkan cahaya kuning temaram pada jajaran pelataran kayu dan ukiran dinding Jawa yang legam. 
Diplomasi Meja Makan ala Miss Juminten

Miss Juminten:
Welcome to Jogja, Mas-Mbak… eh Mister ya? Welcome, welcome. Monggo pinarak, silakan duduk dulu. Comfortable?

Mas Bulewajahnya langsung mencair rileks.
Yes, thank you. This place is beautiful. 

Miss Juminten:
Aduh, matur nuwun. You are so sweet. Mau order apa, darling?

Bule:
I want satay and fried noodles. I heard they are good.

Miss Juminten:
Wah good choice! 
Sate enak banget, juicy, smoky, pokoknya mantul lah. Fried noodles also favorite.

(Beberapa menit kemudian Miss Juminten balik lagi dengan ekspresi sedikit dramatis.)

Miss Juminten:
Ealah, Mister… I have bad news but please don’t panic, nggih.

Bule:
Oh? What happened?

Miss Juminten:
Mie goreng habis. Sold out. Ludes. Gone. Finished.
Netizen bilang, war is over. 

Bule:
Oh no…!

Miss Juminten:
I know, I know. Sedih, aku juga ikut sedih. Nanging… how about replace with something else?

Maybe nasi goreng?
Or bakmi godhog?
Ini enak banget, warm and comforting. Cocok for tonight.

Bule:
Hmm… what do you recommend?

Miss Juminten:
Kalau Mister suka savory and rich flavor, I recommend Nasi Goreng Jawa.
Sedikit manis, sedikit smoky… very local, very authentic.
Istilah Jawanya ora bakal nyesel. No regret.

Bule:
Okay, I’ll try that.

Miss Juminten:
Nah gitu dong. Good decision. Trust Mbak Juminten, your stomach will thank you later. 😄

Percakapan di atas itu bukan imajiner ya gaes, itu beneran terjadi kalau kita berkunjung ke Den Baguse, dan ketemu si Miss Juminten yang kemayu, ramah, hangat dan very welcoming itu!


Menguliti "Mantra Komersial" The Den Baguse Raminten

Aku tersenyum sendiri melihat antrean yang mengular di depan pintu masuk. 

Sebagai orang yang sering bepergian dan melihat berbagai tempat makan baru bermunculan, kutahu membuat orang rela mengantre dalam waktu lama itu tidak mudah. Apalagi di Yogyakarta, kota yang rasanya punya ribuan sudut estetik dan tempat makan dengan fasilitas yang jauh lebih modern serta pelayan berseragam rapi.

Namun, ada magnet tak kasat mata yang membuat langkah kaki orang-orang termasuk diriku malam itu.. tetap berbelok ke sini. 

Den Baguse Raminten seperti punya cara sendiri untuk merawat kenangan para tamunya. Mereka tidak sedang memamerkan kemewahan, melainkan menghidupkan kembali potongan-potongan ingatan tentang rumah Jawa kuno yang hangat, lengkap dengan segala detailnya yang barangkali sudah mulai jarang kita temui di kota-kota besar.

Memahat Pengalaman, Bukan Sekadar Menjual Menu

"Monggo, buuuk, mau dahar apa hari ini?" sapa kenes manja tapi tegas itu menyapaku. Ngga cuman sekedar menyapa, ia jongkok di sampingku, coba!


Again, sebagai manusia di negara setengah kolonial, aku merasa dijamu lahir batin! Belom  makan apa-apa aja, aku udah ngerasa kayak di rumah! 

Sepertinya sebagian yang datang punya tujuan yang sama, deh : kami memang sengaja datang dengan satu rasa penasaran: ingin bertemu langsung dengan Miss Juminten yang kesohor itu!

Orang-orang datang ke sini jelas bukan cuma demi mengisi perut yang keroncongan, mereka datang untuk membeli sebuah rasa...

Sambil menunggu pesanan datang, aku mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. 

Nuansa Jawa klasik yang kental, pemilihan sudut-sudut meja dengan aneka kursi dan bangku kayu panjang, terkesan seperti di rumah eyang keturunan ningrat. 

Penataan cahayanya terasa pas sekali. Temaram, namun cukup menonjolkan keunikan dekorasi bantal bermotif etnik, sekat-sekat bambu, hingga siluet lampu gantung tua yang artistik. Di sudut dekat jendela, beberapa anak muda tampak asyik bergantian mengambil foto, mencari sudut terbaik agar pendar lampu gantungnya ikut terekam di kamera ponsel mereka.

Aku maklum kenapa sudut-sudut ini begitu disukai untuk berfoto. Di tengah menjamurnya kafe-kafe baru berkonsep minimalis atau gaya modern yang sekilas tampak seragam di berbagai kota, Den Baguse Raminten memilih jalan yang berbeda. Mereka tetap setia merawat detail tradisionalnya. Kesetiaan itulah yang membuat tempat ini begitu hidup dan langsung dikenali lewat sekali jepretan foto saja, bahkan tanpa perlu penjelasan panjang lebar.





Mencicipi Nasi Sapi Sambal Matah dan Rawon Iga ala Den Baguse Raminten
Rawon Iga
Aroma kluwak yang pekat langsung menguar bersama uap panas saat mangkuk tanah liat berisi rawon iga ini disajikan. Kuahnya yang hitam legam terlihat kental, menyembunyikan beberapa potong iga sapi berukuran cukup besar di dalamnya. Sebagai pelengkap, sepiring kecil taoge pendek yang putih bersih, sambal merah, dan potongan telur asin ikut menemani di sisi mangkuk.

Aku mencoba menyeruput kuahnya terlebih dahulu tanpa tambahan apa pun.

Rasa gurih yang dalam dan hangat langsung menjalar di tenggorokan, khas dari bumbu kluwak yang ditumis matang dengan kaldu sapi yang tebal. 

Saat sendokku kubenamkan dalam daging iganya, serat-serat daging itu langsung terpisah dengan mudah dari tulangnya tanpa perlawanan. Dagingnya begitu lembut dan bumbunya meresap hingga ke bagian dalam. Menyantapnya bersama nasi hangat, sejumput taoge pendek yang memberi tekstur renyah-segar, dan sedikit gurihnya telur asin, membuat hidangan berkuah hitam ini terasa begitu menenangkan di tengah udara Jogja yang mulai mendingin selepas hujan.


Nasi Sapi Sambal Matah

Pilihan suamiku berbeda, sepiring nasi campur disajikan dalam keadaan mengepul hangat. Potongan daging sapi tumisnya terlihat basah dan berkilau, bersanding apik dengan telur mata sapi yang kuningnya masih bergoyang perlahan saat piring diletakkan, tanda ia dimasak setengah matang dengan pas.

Di atasnya, taburan sambal matah yang didominasi rajangan bawang merah dan cabai rawit segar tampak begitu menggoda, diselingi remahan kremesan yang melimpah.

Saat sendok pertama menyendok nasi, potongan daging sapi, dan lelehan kuning telur yang gurih, rasa pedas segar langsung menyergap lidah. Ada sengatan hangat dari cabai rawit yang berpadu dengan aroma wangi minyak kelapa dan irisan serai yang tipis.

Daging sapinya terasa sangat empuk, tidak perlu usaha keras untuk gigi lolitaku saat mengunyah. Menariknya, tekstur renyah dari kremesan yang gurih di sela-sela suapan memberikan sensasi gigitan yang menyenangkan di mulut. Sederhana, namun kaya rasa.


Tak lengkap rasanya usai makan tak menikmati dessert, right?

Cenil & Lava Cake
Jajan pasar yang satu ini, kesukaan aku di masa kecil! 
Beberapa butir cenil berwarna-warni yang kenyal ditusuk ala sate dan diletakkan di atas sebuah kue cokelat pekat atau Lava Cake berbentuk mangkuk kecil coklat yang masih hangat.

Kalau kita belah, lelehan cokelat yang pekat dan hangat perlahan mengalir keluar, menciptakan genangan manis yang berkilau. Hmm... agak kurang masuk di akal, kan... yuk kita masukin aja ke mulut, satu butir cenil yang kenyal dengan lumatan cokelat hangat dan sedikit taburan parutan kelapa gurih di atasnya.

Ada sensasi rasa yang unik sekaligus akrab di dalam mulut. Tekstur cenil yang membal berpadu apik dengan lembutnya kue dan manisnya lelehan cokelat. Gurih dari parutan kelapa ternyata menjadi penyeimbang yang pas, mencegah rasa manis cokelatnya menjadi terlalu pekat. 

Sebuah "pertemuan" gak biasa antara kehangatan rasa lawas yang bersahaja dan sentuhan manis modern yang istimewa... 

Selama menyantap hidangan pelahan, aku jadi merenung. 

Perjalanan kuliner, pada akhirnya, hampir selalu bukan sekadar tentang urusan memanjakan lidah atau mengenyangkan perut. Kita sering kali rela kembali ke tempat yang sama karena rindu pada rasa nyaman yang dihadirkannya, serta cerita-cerita kecil yang bisa kita bawa pulang untuk diingat kembali.

Kehangatan itulah yang aku rasakan di Den Baguse Raminten malam ini. Tempat ini seolah mengikat ingatan para tamunya lewat hal-hal sederhana yang menyentuh hati. 

Mulai dari detail interior dan keunikan perabotan kayunya yang khas, rasa akrab yang seketika muncul saat kita melangkah masuk, hingga kehadiran sosok jenaka seperti Miss Juminten yang dengan tulus mencairkan suasana. Interaksi yang mengalir tanpa sekat kaku itulah yang membuat kunjungan malam ini terasa begitu manusiawi.

Di luar sana, mungkin banyak tempat makan modern yang dikelola dengan sangat rapi dan serba mekanis. Namun, tak jarang tempat-tempat tersebut terasa dingin karena kehilangan sentuhan personal. Sementara di sini, di bawah temaram lampu petromaks tua ini, kelokalan yang dirawat dengan sepenuh hati justru mengembuskan jiwa yang membuat setiap sudutnya terasa begitu hidup.


Yuk, Ngobrol di Kolom Komentar!

Kalau kalian sendiri sedang kulineran, hal apa sih yang paling gampang bikin kalian jatuh cinta dan pengen balik lagi ke tempat itu? Cita rasa makanannya yang harus mutlak juara di lidah, atau justru pelayanan dan vibes unik yang bikin kalian merasa koneksi secara emosional?

Yuk, coret-coret cerita kalian di kolom komentar di bawah! Siapa tahu kita punya comfort place yang sama di Jogja...

Komentar

  1. Wah, foto-fotonya cakep banget, Mak Neng 🤗 Sudut-sudut kayunya kelihatan magis tapi hangat. Ditambah ada karakter unik kayak Miss Juminten yang ramah begitu, makin bikin penasaran pengen langsung melipir ke sana kalau pas ke Jogja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaciiih mbak Di, iya ke sana deh, terpesona bukan ama makanannya aja tapi juga experiencenya

      Hapus
  2. Raminten itu memang fenomena yang unik ya. Di saat tempat lain sibuk tampil modern dan minimalis ala kafe kekinian, mereka justru konsisten mempertahankan konsep budaya yang kental, nyentrik, sekaligus satir. Dibalik keviralannya, pasti ada strategi marketing yang jenius, mulai dari atmosfer, menu, sampai gimmick yang bikin orang penasaran dan pengin balik lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga ngerasa hal yang sama. Justru di saat banyak tempat berlomba-lomba kelihatan modern, Raminten malah pede banget jadi dirinya sendiri. Menurutku itu yang bikin orang nggak cuma datang buat makan, tapi juga buat "mengalami" suasananya.

      Aku jadi makin sadar kalau di balik semua kesan nyentrik itu ternyata banyak strategi yang dipikirin matang. Jadi bukan sekadar viral atau gimmick, tapi memang ada filosofi dan konsistensi yang dijaga bertahun-tahun. Itu sih yang menurutku paling keren. Semoga kapan-kapan aku bisa ngobrol sama owner dan ngulik sisi-sisi menarik lainnya.

      Hapus
  3. Sudah lama sekali baca dan mendengar kepopuleran raminten soal kuliner. Aku baru dua kali ke Jogja dan belum pernah nyobain makan di sana. Kapan-kapan kalau ada waktu liburan ke Jogja pingin nyobain jugalah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, berarti masih ada alasan buat balik lagi ke Jogja nih. 😊 Aku juga dulu tahunya Raminten dari cerita orang-orang, tapi setelah akhirnya nyobain sendiri, baru paham kenapa tempat ini selalu ramai. Bukan cuma makanannya yang enak, tapi suasana dan pengalamannya juga bikin berkesan. Semoga pas nanti liburan ke Jogja kesampaian mampir ya.

      Hapus
  4. Raminten Grup selalu bikin terobosan ya? Keren
    Pemiliknya, alm Hamzah Sulaeman cerdas membranding diri, dari perannya sebagai raminten, jadi deh ikon di seluruh gerainya, termasuk toko oleh-oleh seperti Hamzah Batik
    Dia juga cerdas dengan menggunakan pakaian ala Raminten ketika menyapa pengunjung
    sehingga pengunjung ngerasa "diuwongke" dan bakal balik lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga setuju banget. Menurutku almarhum Hamzah Sulaeman bukan cuma jual produk atau tempat makan, tapi berhasil menciptakan pengalaman yang bikin orang merasa punya ikatan emosional. Sosok Raminten itu akhirnya bukan sekadar karakter, tapi jadi identitas yang langsung melekat di benak pengunjung.

      Dan benar banget, saat pengunjung merasa "diuwongke", dihargai, dan disambut dengan hangat, yang dibawa pulang bukan cuma oleh-oleh atau foto, tapi juga kenangan. Mungkin itu yang bikin orang selalu pengen balik lagi ke Jogja, lalu mampir lagi ke Raminten.

      Hapus
  5. Saya sampai berpikir yang di awal tadi percakapan dalam cerpen, novel, atau apakah, ternyata memang nyata. Berarti itu semua pengunjung pasti akan disapa demikian? Wah luar biasa yaa effortnya. Desain ruangannya apik sih, gak yang modern maupun minimalis seperti desain yang umum sekarang. Untuk makanan, saya langsung tergoda sama Rawon Iga (mana sekarang lagi hujan pun, kebayanglah menyantap itu dengan nasi hangat dan sambal).

    BalasHapus
    Balasan
    1. dududududu.... rawon iga ini menu ikonik mbaaaakkk

      iya itu udah kayak percakapan imajiner yak hihihi.. se-effort itu mereka tapi ternyata Miss Juminten ngga setiap saat atau setiap hari ada loh yaaa...
      beruntung aja pas datang dia ada

      Hapus
  6. Dari dulu selalu kagum sama Raminten. Ini tuh konsepnya unik banget, dan orisinil. Unik plus kocak. Estetik tapi ga terlalu mahal. Semoga bisa menginspirasi para pelaku usaha lainnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini jadinya "sempalan" Raminten yang itu mas, jadi ini yang baru, konsep lebih moderen

      Hapus

Posting Komentar

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)

Postingan Populer