What Happened to You Guys? Jangan-Jangan Kita Sedang Kehilangan Kemanusiaan


Ada satu pertanyaan yang belakangan ini terus berdengung di kepalaku.

What happened to you guys?

Apa sih yang sebenarnya sedang terjadi pada kita?

Bukan cuma tentang orang lain, bukan cuma tentang Gen Z, Boomer, atau generasi tertentu. Tapi tentang kita semua.

Pertanyaan ini makin kuat menggelitik setelah menonton sebuah video pemantik dari Deddy Corbuzier, ustadz Felix Siauw dan Koide berjudul “Sesuatu Sedang Terjadi Pada MANUSIA… Dan Itu MENAKUTKAN‼️” di kanal YouTube Deddy Corbuzier. 

Merinding.. menonton klip seorang ayah yang menyabung nyawa ketika ketahuan mengambil ayam, untuk anak istrinya yang kelaparan. 

Ga berani nonton, ketika ada seorang driver ojol diambil motornya dan ..dihabisi saat itu juga ☹️

Mendidih marah ketika ada anak-anak remaja menghabisi nyawa seorang security yang bertugashanya karena ditegur jangan  vandalisme yaitu mencoret- coret tembok!

Sumpah akhir-akhir ini ingin rasanya mematikan semua kanal berita!

Aku sih, tidak berniat menjadikan video itu sebagai kesimpulan mutlak. Justru sebaliknya, diskusi di sana membuat aku berhenti sejenak, menghela napas, dan bertanya pada diri sendiri:
Jangan-jangan memang ada sesuatu yang sedang bergeser perlahan dalam diri manusia? 
Dan yang lebih mengganggu… jangan-jangan kita sedang menganggap pergeseran itu sebagai hal yang biasa saja?
Kita Masih Manusia, Kan?

Coba lihat sekeliling kita hari ini.

Secara teknis, kita hidup di era paling terhubung sepanjang sejarah peradaban. Kita punya WhatsApp untuk pesan instan, Instagram untuk pamer visual, TikTok untuk hiburan kilat, YouTube, mesin pencari, hingga Artificial Intelligence (AI). 

Mau menyapa teman di belahan bumi lain? Cukup satu klik video call.

Secara teori, dunia harusnya membuat manusia makin dekat dan hangat. Tapi anehnya, kenapa makin banyak orang yang merasa makin kesepian?

Koneksi Makin Luas ≠ Empati Makin Dalam Akses Informasi Melimpah ≠ Kebijaksanaan Bertambah


Kita bisa tahu apa yang dimakan selebgram di negara lain setiap menitnya, 
tapi kita sering kali tidak tahu keresahan apa yang sedang dipendam orang 
yang duduk tepat di sebelah kita.

Kita bisa melihat ribuan konten estetis lewat satu swipe, tapi ketika anak atau pasangan kita berkata, “Mama, aku lagi capek…” 

tanpa sadar.... terkadang tangan kita tetap menempel di layar HP sambil mengangguk formalitas!

Ironis, bukan? Teknologi memudahkan kita berkomunikasi, tetapi tidak otomatis membuat kita pandai berhubungan sebagai manusia.

Kita Terlalu Cepat Menilai (dan Malas Berpikir)

Ada fenomena lain yang menurutku jauh lebih mengkhawatirkan: ketergesaan sosial.

Sekarang kita seperti dipaksa oleh keadaan untuk punya opini atas segala hal.
  • Ada berita viral? Harus ikutan komentar.
  • Ada orang bikin kesalahan? Harus segera di-judge.
  • Ada perbedaan pandangan? Harus pilih kubu A atau kubu B.
Padahal, kita sering kali bahkan belum membaca artikelnya sampai selesai. Cukup berbekal potongan video 30 detik, satu caption provokatif, atau judul berita yang clickbait, kita merasa sudah memegang kebenaran mutlak.

Kita tidak lagi mencari kebenaran; kita hanya mencari pembenaran.

Dan algoritma media sosial dengan senang hati melayaninya. Algoritma dirancang untuk memberi kita lebih banyak hal yang kita sukai, opini yang sejalan, atau konten yang memicu amarah dan rasa paling benar (echo chamber).

Akhirnya, dua orang bisa melihat satu kejadian yang sama, lalu pulang membawa dua kenyataan yang bertolak belakang. Lalu kita bertengkar hebat di kolom komentar. Bukan karena kita tahu terlalu banyak, tapi karena kita enggan mengakui bahwa mungkin pengetahuan kita belum cukup.

Dulu, Kita Punya Waktu untuk "Merasa"

Mengingat hal ini membuatku refleks membandingkannya dengan masa-masa dulu.

Aku inget janjian sama temen di Blok M, dan aku duluan datang. Sesuai kesepakatan, aku menunggu temenku itu di sebuah resto cepat saji.

Pasti yang hidup di eraku yang dikenal Gen X, yang namanya menunggu seseorang datang, ya kita benar-benar menunggu! 

Nggak ada tuh,  scrolling tanpa henti. Tidak ada notifikasi yang memperebutkan perhatian kita setiap detik... tapi aku selalu bawa buku sih, ke mana pun. Jadi kalau menunggu itu, aku sibuk menghabiskan isi bukuku, atau membawa buku gambar untuk dicoret-coret!

Kalo kelamaan, aku kadang melamun. Dan tahukah kamu? Melamun itu sama sekali tidak sia-sia! Di "ruang kosong"  itulah, imajinasi dan empati tumbuh. 

Sebagai orang yang sehari-hari berkutat dengan dunia gambar dan merangkai kata, aku malah merasakan betul betapa mahalnya "ruang kosong" di kepala.

Sebuah ide ilustrasi sering kali tidak lahir saat aku sedang melotot ribuan gambar referensi di Pinterest atau Behance. Ia justru muncul saat aku  berhenti melihat apa pun!

Plot cerita atau ide tulisan kadang tiba-tiba meletup saat sedang fokus cuci piring atau berjalan kaki menghirup udara pagi.

Mengapa? Karena otak manusia butuh jeda dan keheningan untuk mengaitkan titik-titik pengalaman yang terpisah.

Tapi hari ini, kita seperti ketakutan setengah mati pada ruang kosong. Begitu bosan sedikit, buka HP. Begitu sepi, buka media sosial. 

Kita kehilangan satu kemampuan mendasar: kemampuan untuk tenang dalam keheningan.

Dan Mungkin Ini yang Paling Menakutkan…

Bukan AI yang harus kita takuti. Bukan perkembangan teknologi, media sosial, atau kecanggihan masa depan. Yang paling menakutkan adalah ketika manusia mulai malas menggunakan pikirannya sendiri.

Hare gene, AI bisa menghasilkan ilustrasi indah dalam hitungan detik. AI bisa menulis esai, merangkum buku, bahkan menjawab pertanyaan rumit. Tapi pertanyaannya:
  • Apakah kita masih mau berpikir kritis sebelum melemparkan pertanyaan ke mesin?
  • Apakah kita masih mau membaca utuh sebelum menarik kesimpulan?
  • Apakah kita masih mau mendengarkan sungguh-sungguh sebelum sibuk membalas?
  • Apakah kita masih mau memahami situasi sebelum buru-buru menghakimi?
Jangan sampai teknologinya makin pintar, sementara manusianya justru membiarkan otaknya atrofi karena jarang dipakai.

Sebuah karya, baik itu lukisan, tulisan, maupun keputusan hidup, memiliki nilai bukan sekadar karena tekniknya yang rumit. Ada nyawa di sana. Ada rekam jejak luka, rasa cinta, kehilangan, penyesalan, keresahan, dan kenangan. Hal-hal yang hanya bisa dirasakan oleh makhluk bernama manusia.

So, What Happened to You Guys? (Atau... What Happened to Me?)

Pada akhirnya, pertanyaan “What happened to you guys?” ini mungkin bukan cuma tentang "kalian" di luar sana. Pertanyaan ini harusnya juga aku tanyakan kembali ke diri sendiri!

Bisa nggak ya aku menikmati sebuah momen hangat tanpa sibuk mengabadikannya demi konten?

Bisa sabaran dikit nggak ya, baca tulisan panjang sampai tuntas?

Atau.. beneran nih, saat temenku cerita, aku dengerin tulus, tanpa sibuk judgment  atau menyiapkan argumen tandingan?

Ada yang lebih "engga banget" : kalo liat status orang langsung sirik, julid atau malah pengen banget statusnya dikomen ama orang lain! Hahhahaa... 

Ada pertanyaan lain yang kadang melintas: in this economy, masih bisakah aku melihat orang lain as a human being , bukan sekadar akun anonim atau lawan kubu?

Mungkin yang sedang terjadi saat ini bukanlah manusia yang bertambah pintar, melainkan kita yang bergerak terlalu cepat.

Kita lebih cepat dapat informasi, lebih cepat bereaksi, lebih cepat marah, lebih cepat menghakimi, dan lebih cepat berpindah perhatian. Tapi sayangnya, kita tidak lebih cepat dalam memahami.

Dunia hari ini mungkin tidak selalu membutuhkan manusia yang paling cepat atau paling serba tahu. Dunia mungkin hanya sedang merindukan lebih banyak manusia yang mau berhenti sejenak…

Berhenti sejenak untuk berpikir, merasakan, mendengarkan, dan kemudian memilih untuk tetap menjadi manusia seutuhnya.

Bagaimana dengan kamu, bestie?

Kapan terakhir kali kamu benar-benar duduk diam tanpa memegang ponsel dan hanya menikmati keheningan di kepalamu sendiri? Yuk, bagikan cerita atau pengalamannmu di kolom komentar di bawah!

Komentar

  1. Mba Tanti, kalimat ini kok relate dengan yg aku rasakan hari ini sihhhhh, "Betapa mahalnya "ruang kosong" di kepala."

    Sampai-sampai, momen 15 menit ngopi pagi sambil beresin bekal anak-anak tak pakai momen diam sebentar.

    Itu berharga banget mbaa.
    Mengembalikan awareness diri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. MashaAllah, iya banget. 🥹 Kadang kita merasa butuh liburan jauh, padahal yang paling kita rindukan justru ruang kosong di kepala. Lima belas menit ngopi pagi tanpa terburu-buru ternyata bisa jadi "charging" yang luar biasa.

      Hapus
  2. Menurut salah satu kajian sih, itu karena mulai berkurang nya kadar iman dan taqwa dalam diri manusia
    Tapi kita intropeksi aja dulu
    Kalau pekerjaan mudah, penghasilan aman, pendidikan terjangkau, dan satu sama lain sesama manusia saling menghormati dan menjaga, insyaallah semua itu bisa terkikis tergantikan rasa aman, nyaman, saling menghormati dan bahagia dunia akhirat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kesenjangan sosial ya teh Okti?
      Di saat yang sama, semoga kita semua juga terus berikhtiar menciptakan lingkungan yang aman, saling menghormati, serta memberikan kesempatan hidup yang lebih baik bagi semua orang. Semoga Allah membimbing langkah kita agar menjadi bagian dari solusi, bukan menambah masalah. Aamiin

      Hapus
  3. Mungkin sebenarnya kejadian mengerikan dari dulu juga sudah ada, ya. Tapi media sosial membuat kita bisa mengakses beritanya lebih cepat.. dan banyak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kejadian mengerikan mungkin memang sudah ada sejak dulu, hanya saja sekarang kita hidup di zaman ketika semuanya bisa masuk ke layar kita dalam hitungan detik. 😔 Mungkin yang berubah bukan cuma “apa yang terjadi”, tapi seberapa sering kita terpapar, seberapa cepat kita bereaksi, dan bagaimana algoritma ikut menentukan apa yang terus-menerus kita lihat. Lama-lama sesuatu yang dulu terasa luar biasa mengerikan bisa terasa seperti “berita biasa”.

      Hapus
  4. Sesak rasanya setiap hari disajikan berita dan info "ajaib" yang mematikan nalar kita. Saking seringnya lama kelamaan info-info sejenis membuat hati nurani kita dipertanyakan. Kok bisa? Kok tega? Kok ada ya kelakuan seperti itu? Tidakkah hati nuraninya sudah mati?

    Belakangan aku merasa hidup kita di NKRI ini bakal berakhir segera jika kita berani mengoreksi atau bahkan sengaja menutup diri dari segala hal negatif yang mengelilingi kita. Tapi bagaimana caranya ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin kita memang tidak bisa menutup mata dari semua hal negatif, karena tetap perlu tahu apa yang sedang terjadi di sekitar kita. Tapi mungkin kita bisa belajar memilih apa yang perlu kita konsumsi, seberapa banyak, dan dari mana sumbernya.

      Bukan menutup diri dari realitas, tetapi memberi batas supaya realitas yang kita lihat tidak sampai mematikan nalar, empati, dan harapan kita sendiri.

      Karena kalau setiap hari hanya dijejali hal-hal yang bikin marah, takut, dan kecewa, lama-lama yang lelah bukan cuma pikiran… hati juga.

      Hapus
  5. sebetulnya kasus main hakim sendiri sudah berlangsung lama Mbak Tanti
    Saya inget dulu pernah melihat ada pencuri ayam dihakimi hingga babak belur
    Kebetulan rumah kami di Sukabumi berdekatan dengan rumah ketua RT
    Sesudah disiksa, pencuri tersebut dibawa ke rumah pak RT, untuk disiksa lagi!
    Kekerasan juga terjadi di sekolah, saya ingat banget pak Subandrio guru SMP berulang kali memukul Jayadi, teman sekelas dengan penggaris kayu
    Berulang kali hingga penggaris patah. Merasa gak puas, dia ngambil penggaris lainnya, kemudian memukul Jayadi lagi hingga patah lagi
    Tau apa penyebabnya? Karena Jayadi cengengesan!
    Jayadi ini memang kurang pintar sehingga dianggap nakal, ketika ditanya guru dia malah cengengesan.
    Dunia berputar dan berganti dunia digital yang menjadikan peristiwa yang dulu "biasa" sekarang menjadi "luar biasa"
    Untunglah kita sekarang mengenal parenting sehingga bisa mengubah paradigma dan cara mendidik anak-anak kita
    Sayangnya, gak semua orang menikmati "kemewahan" tersebut mengingat mayoritas penduduk Indonesia hanya lulusan SD dan SMA

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaaa Allaaah

      Waduh, kisah tentang Jayadi itu bikin saya ikut ngilu membacanya, ambuuu. 😔 Terutama karena alasan “cengengesan” ternyata dianggap cukup untuk membenarkan kekerasan. Padahal bisa jadi itu justru cara seorang anak menghadapi rasa takut atau bingung.

      Saya setuju sekali, kekerasan dan main hakim sendiri sebenarnya bukan fenomena baru. Mungkin yang berubah adalah cara kita melihat dan menyaksikannya. Dulu banyak kejadian berhenti di lingkungan sekitar dan dianggap “ya memang begitu”, sekarang kamera dan media sosial membuatnya bisa terekam, tersebar, dan disaksikan jauh lebih banyak orang.

      Dan saya juga sepakat soal parenting. Pengetahuan memang bisa mengubah cara kita memahami perilaku anak—bahwa “nakal” tidak selalu berarti harus dihukum, apalagi dipermalukan atau disakiti.

      Tapi kalimat terakhir ambu juga menarik: pengetahuan tentang parenting yang baik memang belum tentu menjadi sesuatu yang mudah diakses semua orang. Jadi mungkin pekerjaan rumah kita bukan hanya mengubah perilaku, tetapi juga memperluas akses terhadap pengetahuan dan cara pandang yang lebih manusiawi.

      Hapus

Posting Komentar

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)

Postingan Populer