YouTube dan Aku yang Suka Pilih-Pilih (Tapi Setia)
Kalau ada yang tanya, “Kamu punya YouTube channel favorit nggak sih?”
Jawabanku bukan satu. Aku tuh tipe yang nggak fanatik, tapi rutin mampir. Kayak punya beberapa warung langganan—beda menu, beda mood, beda kebutuhan.
Kalau ada yang tanya, "Neng, elo punya channel YouTube favorit nggak, sih?"
Aku pasti senyum dulu sebelum jawab. Karena jawabannya bukan satu. Aku bukan tipe yang setia pada satu channel saja. Aku lebih seperti pengunjung tetap di beberapa warung yang berbeda. Tergantung lagi lapar apa.
YouTube buatku bukan cuma hiburan. Dia itu teman kerja, teman mikir, kadang juga teman merenung. Bahkan bisa jadi pengingat kalau iman lagi turun pelan pelan. Yuk kita bahas beberapa channel ini.
YouTube buatku bukan cuma hiburan. Dia itu teman kerja, teman mikir, kadang juga teman merenung. Bahkan bisa jadi pengingat kalau iman lagi turun pelan pelan. Yuk kita bahas beberapa channel ini.
Close the Door - Deddy Corbuzier
Salah satu yang sering aku buka adalah Close The Door Podcast milik Deddy Corbuzier. Tapi aku jujur yaaa, tidak semua episode aku tonton. Aku pilih tamunya. Kalau topiknya relevan, kalau pembahasannya terasa penting, atau kalau tamunya punya pengalaman hidup yang kuat, baru aku klik.
Yang aku cari bukan sensasinya. Tapi sudut pandangnya. Kadang aku setuju. Kadang juga dalam hati bilang, hmm tidak juga sih. Tapi justru di situ letak manfaatnya. Aku jadi belajar mendengar sampai selesai. Belajar tidak buru buru menghakimi. Belajar melihat bahwa dunia ini tidak hitam putih.
Pandji Pragiwaksono
Salah satu yang sering aku buka adalah Close The Door Podcast milik Deddy Corbuzier. Tapi aku jujur yaaa, tidak semua episode aku tonton. Aku pilih tamunya. Kalau topiknya relevan, kalau pembahasannya terasa penting, atau kalau tamunya punya pengalaman hidup yang kuat, baru aku klik.
Yang aku cari bukan sensasinya. Tapi sudut pandangnya. Kadang aku setuju. Kadang juga dalam hati bilang, hmm tidak juga sih. Tapi justru di situ letak manfaatnya. Aku jadi belajar mendengar sampai selesai. Belajar tidak buru buru menghakimi. Belajar melihat bahwa dunia ini tidak hitam putih.
Pandji Pragiwaksono
Aku belajar ngomong berani di depan, salah satunya ya karena juga suka menonton Pandji Pragiwaksono. Sama seperti Deddy, aku juga tidak menonton semua topik. Tapi aku suka cara dia menjelaskan sesuatu dengan runtut dan logis. Cara berpikirnya terasa sistematis.
Buatku yang suka menulis, itu seperti latihan mental. Tanpa sadar, pola pikir kita ikut terasah.
Podhub
Selain Close The Door, aku juga beberapa kali nonton Podhub. Jujur ini seru karena interaksinya terasa lebih cair. Vidi Aldiano dan Deddy Corbuzier itu kombinasi yang unik. Satu lebih santai dan hangat, satu lagi tetap tajam tapi terkontrol. Obrolannya jadi luwes tanpa kehilangan arah. Tidak terasa menggurui, tapi juga tidak kehilangan isi.
Podhub
Selain Close The Door, aku juga beberapa kali nonton Podhub. Jujur ini seru karena interaksinya terasa lebih cair. Vidi Aldiano dan Deddy Corbuzier itu kombinasi yang unik. Satu lebih santai dan hangat, satu lagi tetap tajam tapi terkontrol. Obrolannya jadi luwes tanpa kehilangan arah. Tidak terasa menggurui, tapi juga tidak kehilangan isi.
Dan aku harus mengakui, aku mulai benar benar jatuh hati sama Podhub gara gara episode Jirayut dan Halda yang dijodohkan di situ. Lucu, gemas, tapi tetap sopan. Dinamikanya terasa natural dan bikin senyum sendiri nontonnya. Kadang yang kita butuhkan memang bukan diskusi berat, tapi percakapan yang hangat dan manusiawi seperti itu.
Putar Balik
Lalu ada satu channel yang lebih sering aku ulang ulang, yaitu Putar Balik.
Yang ini beda rasanya. Lebih tenang. Lebih dalam. Banyak membahas tentang agama, hijrah, dan proses memperbaiki diri. Kadang satu episode bisa aku dengarkan dua kali. Aneh ya, tapi memang setiap kali didengar ulang, rasanya seperti ditegur dengan cara yang berbeda. Ada momen ketika hati lagi lelah, lalu kontennya seperti datang tepat waktu.
Sepulang Sekolah
Ini sih yang ngenalin channel ini anakku, bang Dio. Tadinya aku gak suka soalnya nada Koi kalo nanya itu rada gengges.
Ini sih yang ngenalin channel ini anakku, bang Dio. Tadinya aku gak suka soalnya nada Koi kalo nanya itu rada gengges.
Tapi belakangan kalo lagi kehabisan topik, aku nonton Koide dan Sepulang Sekolah. Mereka banyak membahas sejarah, peradaban, geopolitik, sampai isu isu global yang dulu waktu sekolah rasanya tidak pernah dijelaskan sedetail itu.
Cara penyampaiannya ringan tapi tetap berbobot. Jadi tidak terasa sedang belajar, tahu tahu sudah selesai satu video. Sekarang mereka juga sering kolaborasi dengan Raymond Chin dan ustadz Felix Siauw. Diskusinya jadi lebih luas dan beragam sudut pandangnya. Buatku ini menarik, karena satu topik bisa dilihat dari sisi ekonomi, sejarah, sampai agama. Rasanya seperti otak diajak olahraga ringan tapi rutin.
Dulu aku juga lumayan rajin mengikuti kontennya Nessie Judge. Waktu itu hampir tiap upload aku tonton, terutama yang bahas kasus kriminal dan misteri. Cara dia mengulik detail kasus itu rapi dan runtut, tidak asal cerita. Risetnya terasa serius, tapi penyampaiannya tetap enak didengar.
Buatku itu menarik, karena bukan sekadar cerita seram atau sensasi, tapi ada proses membedah fakta yang bikin kita ikut mikir. Tapi belakangan aku sudah jarang nonton lagi. Sejak Nessie pindah ke Perancis dan menikah, intensitas kontennya memang tidak sesering dulu. Jadi tanpa sadar, aku juga ikut bergeser ke tontonan lain. Kadang memang fase kita berubah, dan daftar tontonan pun ikut berubah pelan pelan.
Musik kalo lagi kerja
Kalau lagi butuh fokus kerja, aku hampir selalu memutar groove music instrumental. Tanpa lirik. Tanpa gangguan. Cuma alunan musik yang membuat jari lebih lincah mengetik atau menggambar. Musik itu buatku bukan sekadar latar belakang. Dia seperti bahan bakar. Kalau nadanya pas, ide juga ikut mengalir.
My hobby!
My hobby!
Dan tentu saja, sebagai orang yang suka menggambar, aku sering sekali menonton channel tentang painting, doodle, atau tutorial art.
Aku suka melihat proses dari kanvas kosong sampai jadi karya yang hidup. Ada kepuasan tersendiri ketika melihat warna dicampur, garis ditarik pelan pelan, atau teknik shading yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Kadang setelah menonton, aku langsung ambil sketchbook. Walau hasilnya tidak selalu sempurna, tapi selalu ada hal baru yang dipelajari.
Tralala trilili..
Tralala trilili..
Dan ini bagian paling jujur. Aku juga suka melihat berita berita ringan, terutama kalau ada kaitannya dengan idola baby boy yang super ceria itu, Jirayut. Energinya positif sekali. Melihat perjuangannya di Indonesia bikin hati ikut hangat. Kadang cuma cuplikan kecil, tapi cukup untuk menaikkan mood hari itu.
Kalau dipikir pikir, apa sih manfaat langsung dari semua yang aku tonton itu?
Ada sekali.
Dari podcast diskusi, aku belajar berpikir lebih terbuka. Dari Putar Balik, aku belajar menjaga hati. Dari KOide dan Sepulang Sekolah, aku belajar memahami sejarah dan realitas dunia dengan lebih utuh. Dari groove music, aku jadi lebih fokus. Dari channel art, aku pelan pelan mengembangkan kemampuan. Dari berita ringan dan Jirayut, aku menjaga mood supaya tetap cerah.
YouTube itu seperti cermin. Apa yang sering kita klik, itu yang akan terus muncul. Jadi sekarang aku lebih sadar dalam memilih tontonan. Bukan berarti harus selalu serius. Tapi lebih ke bertanya pada diri sendiri, konten ini membuatku tumbuh atau hanya membuatku ramai di kepala.
Karena pada akhirnya, yang membentuk kita bukan hanya apa yang kita alami, tapi juga apa yang kita konsumsi setiap hari. Termasuk video video yang kita tonton diam diam sebelum tidur.
Kalau kamu sendiri, channel apa yang sering kamu kunjungi? Siapa tahu aku bisa menemukan warung langganan baru lagi di berandaku.
Kalau dipikir pikir, apa sih manfaat langsung dari semua yang aku tonton itu?
Ada sekali.
Dari podcast diskusi, aku belajar berpikir lebih terbuka. Dari Putar Balik, aku belajar menjaga hati. Dari KOide dan Sepulang Sekolah, aku belajar memahami sejarah dan realitas dunia dengan lebih utuh. Dari groove music, aku jadi lebih fokus. Dari channel art, aku pelan pelan mengembangkan kemampuan. Dari berita ringan dan Jirayut, aku menjaga mood supaya tetap cerah.
YouTube itu seperti cermin. Apa yang sering kita klik, itu yang akan terus muncul. Jadi sekarang aku lebih sadar dalam memilih tontonan. Bukan berarti harus selalu serius. Tapi lebih ke bertanya pada diri sendiri, konten ini membuatku tumbuh atau hanya membuatku ramai di kepala.
Karena pada akhirnya, yang membentuk kita bukan hanya apa yang kita alami, tapi juga apa yang kita konsumsi setiap hari. Termasuk video video yang kita tonton diam diam sebelum tidur.
Kalau kamu sendiri, channel apa yang sering kamu kunjungi? Siapa tahu aku bisa menemukan warung langganan baru lagi di berandaku.


Komentar
Posting Komentar
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)