Riuh, Viral, dan Reflektif: Catatan IRT di Tengah Dunia Digital
Dunia blogging itu buat aku kayak rumah lama yang masih aku sayang.
Ya sih, saat ini temboknya ibarat sudah mulai berdebu karena orang orang lebih betah scroll TikTok, aku masih suka duduk manis di sudut ruang kerja, ngetik pelan pelan, sambil mikir, “Apakah blog masih relevan?”
Pertanyaan itu bukan cuma milik aku. Banyak teman blogger juga mulai resah. Traffic turun. Orang lebih suka video singkat. Atensi makin pendek. Semua serba cepat. Serba instan. Serba viral.
Sebagai IRT usia 50an yang masih doyan belajar algoritma sambil rebahan, aku kadang merasa dunia digital itu lari cepat banget. Kita yang generasi lama harus sprint padahal lutut sudah minta kompromi. Tapi justru di situ menariknya.
Apakah kita menyerah? Atau kita upgrade cara mainnya?
Aku sering mikir tentang konsep Mindful Lifestyle Blogger seperti yang sering dibahas di blognya sahabat bloggerku, Aie.
Sebagai IRT usia 50an yang masih doyan belajar algoritma sambil rebahan, aku kadang merasa dunia digital itu lari cepat banget. Kita yang generasi lama harus sprint padahal lutut sudah minta kompromi. Tapi justru di situ menariknya.
Apakah kita menyerah? Atau kita upgrade cara mainnya?
Aku sering mikir tentang konsep Mindful Lifestyle Blogger seperti yang sering dibahas di blognya sahabat bloggerku, Aie.
Blogging bukan cuma soal angka dan adsense. Tapi soal kehadiran. Soal kesadaran. Soal memilih untuk tetap menulis dengan napas yang lebih tenang di tengah hiruk pikuk konten viral. Di saat semua orang ingin trending, ada yang tetap memilih meaning.
Dan jujur ya, justru di era sekarang ini aku merasa blogging bisa jadi ruang refleksi yang lebih dalam. Kalau TikTok itu panggung cepat, blog itu ruang tamu. Orang yang masuk memang tidak seramai mall, tapi yang datang biasanya benar benar ingin duduk dan mendengar.
Dan jujur ya, justru di era sekarang ini aku merasa blogging bisa jadi ruang refleksi yang lebih dalam. Kalau TikTok itu panggung cepat, blog itu ruang tamu. Orang yang masuk memang tidak seramai mall, tapi yang datang biasanya benar benar ingin duduk dan mendengar.
Btw btw... kalian dah dengar gak, berita barusan tentang seorang seleb TikTok yang lumayan famous dengan followers mencapai 2 juta lebih?
Fenomena itu Bernama Kakak Itwill
Lately, memang banyak sekali saat ini fenomena unik yang bikin dunia digital makin riuh. Salah satunya adalah sosok Kakak Itwill.
Dia tinggal di Austria bersama suaminya yang sering disapa Abah. Di TikTok, dia sering live dan membahas topik hubungan seksual dengan gaya yang santai, terbuka, dan bagi sebagian orang terasa berani. Followers nya banyak. Engagement-nya tinggi. Dan sekarang kabarnya dia akan mengadakan road trip ke Indonesia.
Road trip atau tour bertajuk “Itwill University: Study Tour” ini mendadak menjadi sorotan. Bukan karena konsep acaranya, melainkan gelombang penolakan hingga ancaman yang muncul jelang pelaksanaannya.
Menariknya, rencana kehadirannya justru memicu pro dan kontra. Ada yang antusias. Ada yang menghujat. Ada yang bahkan ingin membatalkan kehadirannya karena dianggap menormalisasikan kaum pelangi. Fenomena ini menurutku unik. Bukan untuk dihakimi. Tapi untuk dipahami sebagai bagian dari realitas digital hari ini.
Kita hidup di zaman di mana batas negara tidak lagi membatasi gagasan. Konten yang dibuat di Austria bisa viral di Indonesia dalam hitungan detik. Nilai nilai, perspektif, bahkan gaya bicara ikut berpindah lintas budaya. Dan masyarakat kita yang beragam tentu merespons dengan beragam pula.
Sebagai ibu dengan anak Gen Z, aku sering berada di posisi tengah. Tidak sepenuhnya konservatif. Tidak juga sepenuhnya liberal. Aku belajar mendengar. Anak anak sekarang tumbuh dengan paparan informasi yang jauh lebih luas dibanding generasiku dulu. Kalau dulu sumber ilmu cuma buku dan ceramah, sekarang satu live TikTok bisa mengubah cara pandang seseorang.
Di sinilah kekhawatiran dunia blogging terasa relevan. Apakah tulisan panjang masih bisa bersaing dengan live yang penuh sensasi dan komentar real time? Apakah refleksi masih punya tempat di tengah perdebatan panas yang terjadi di kolom komentar?
Aku percaya jawabannya iya. Tapi dengan catatan kita mau adaptif. Blogger hari ini tidak bisa hanya mengandalkan nostalgia. Kita perlu hadir juga di platform lain. Perlu paham bagaimana audiens bergerak. Perlu memahami bahwa digital bukan musuh, tapi ekosistem.
Fenomena Kakak Itwill ini menurutku adalah cermin.
Dunia digital mempertemukan berbagai nilai dalam satu ruang. Ada yang setuju. Ada yang tidak. Tapi perdebatan itu sendiri menunjukkan bahwa masyarakat kita sedang berproses. Dan sebagai blogger, kita bisa memilih untuk menjadi jembatan dialog, bukan bahan bakar konflik.
Dalam perjalanan Family & Personal Journey yang aku jalani sebagai ibu, istri, dan perempuan yang terus belajar, aku melihat bahwa dunia digital itu seperti pasar besar. Ada yang menjual ilmu. Ada yang menjual sensasi. Ada yang sekadar mencari validasi.
Dalam perjalanan Family & Personal Journey yang aku jalani sebagai ibu, istri, dan perempuan yang terus belajar, aku melihat bahwa dunia digital itu seperti pasar besar. Ada yang menjual ilmu. Ada yang menjual sensasi. Ada yang sekadar mencari validasi.
Tugas kita bukan menutup mata, tapi memilih dengan sadar apa yang ingin kita konsumsi dan bagikan.
Aku tidak menutup mata bahwa ada kekhawatiran. Anak anak muda lebih percaya influencer dibanding guru. Opini bisa lebih viral daripada fakta. Tapi justru karena itu, ruang tulisan yang tenang dan argumentatif tetap dibutuhkan. Blog bisa menjadi tempat untuk mengurai isu tanpa teriak teriak.
Apakah kita masih bisa menjadi bagian dari dunia digital saat ini? Sangat bisa. Tapi bukan dengan cara yang sama seperti sepuluh tahun lalu. Kita perlu authenticity. Perlu keberanian untuk tetap jadi diri sendiri di tengah tren. Perlu kesadaran bahwa tidak semua perdebatan harus kita menangkan.
Sebagai Neng Tanti versi IRT yang masih belajar bikin reels tapi juga setia menulis, aku merasa dunia digital bukan soal siapa paling keras suaranya. Tapi siapa yang paling konsisten membawa nilai. Entah itu lewat blog, TikTok, atau platform lain.
Dan mungkin, di tengah semua kegaduhan ini, yang paling penting adalah satu hal sederhana. Tetap waras. Tetap kritis. Tetap punya hati. Karena pada akhirnya, teknologi hanya alat. Manusianya yang menentukan arah.
Aku tidak menutup mata bahwa ada kekhawatiran. Anak anak muda lebih percaya influencer dibanding guru. Opini bisa lebih viral daripada fakta. Tapi justru karena itu, ruang tulisan yang tenang dan argumentatif tetap dibutuhkan. Blog bisa menjadi tempat untuk mengurai isu tanpa teriak teriak.
Apakah kita masih bisa menjadi bagian dari dunia digital saat ini? Sangat bisa. Tapi bukan dengan cara yang sama seperti sepuluh tahun lalu. Kita perlu authenticity. Perlu keberanian untuk tetap jadi diri sendiri di tengah tren. Perlu kesadaran bahwa tidak semua perdebatan harus kita menangkan.
Sebagai Neng Tanti versi IRT yang masih belajar bikin reels tapi juga setia menulis, aku merasa dunia digital bukan soal siapa paling keras suaranya. Tapi siapa yang paling konsisten membawa nilai. Entah itu lewat blog, TikTok, atau platform lain.
Dan mungkin, di tengah semua kegaduhan ini, yang paling penting adalah satu hal sederhana. Tetap waras. Tetap kritis. Tetap punya hati. Karena pada akhirnya, teknologi hanya alat. Manusianya yang menentukan arah.




Komentar
Posting Komentar
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)