Ketika Hidup Berkolaborasi dengan Keadaan
Ada masa dalam hidup ketika aku berhenti bertanya, “Apa lagi yang kurang?”
Dan mulai bertanya, “Apa yang sebenarnya sudah cukup?”
Belakangan ini, aku merasa lebih terkoneksi dengan diriku sendiri. Bukan karena hidup tiba-tiba sempurna. Bukan karena masalah hilang. Tapi karena aku pelan-pelan berhenti kabur dari diriku sendiri.
Aku mulai menikmati hidup dengan caraku.
Pagi hari, setelah mandi, aku berdiri di depan cermin. Skincare-an seadanya. Nggak .. ngga pake skin care ribet, dan ga pake acara kudu 10 step juga. Nggak pake serum jutaan. Maksimal tu aku cuman pake baby oil hihihi.. iyeessss.. andalanku cuman itu, sampe pernah ditegor anak cewek, "Mah, baby oil itu malah bikin kulit mamah tambah kering, tau!"
Dan mulai bertanya, “Apa yang sebenarnya sudah cukup?”
Belakangan ini, aku merasa lebih terkoneksi dengan diriku sendiri. Bukan karena hidup tiba-tiba sempurna. Bukan karena masalah hilang. Tapi karena aku pelan-pelan berhenti kabur dari diriku sendiri.
Aku mulai menikmati hidup dengan caraku.
Pagi hari, setelah mandi, aku berdiri di depan cermin. Skincare-an seadanya. Nggak .. ngga pake skin care ribet, dan ga pake acara kudu 10 step juga. Nggak pake serum jutaan. Maksimal tu aku cuman pake baby oil hihihi.. iyeessss.. andalanku cuman itu, sampe pernah ditegor anak cewek, "Mah, baby oil itu malah bikin kulit mamah tambah kering, tau!"
Dengan cuek, aku menyahut, "Tapi kan aku terbukti engga jerawatan, cantikkuuu.." Ia dengan wajah (masih) protes menjawab, "Iya sih.. tapi kaaan.."
"Iya deh, nanti aku beli serum-seruman," pungkasku, biar dia gak tambah tantrum.
Ya, aku lebih suka merawat wajah dengan baby oil, karena serasa mengelus-elus wajah dan bilang pada kulitku, “Aku rawat kamu pelan-pelan aja, yaaa.”
Duluuuu... aku heboh banget deh "merawat diri", karena ingin terlihat lebih baik di mata orang. Pokoke gue harus gini harus gitu, capek deh liatnya. Sekarang? Karena aku sayang sama badan ini. Sama wajah ini. Sama perempuan lolita yang sudah melewati banyak badai...
Gimana soal makanan?
Saat ini, aku merasa lebih nyaman dengan membatasi diri, terutama dengan puasa. Aku puasa bukan cuma demi angka di timbangan, tapi demi rasa ringan yang nggak kelihatan. Ada kepuasan yang sunyi saat bisa bilang “cukup” pada diri sendiri. Nggak semua keinginan harus dituruti. Nggak semua lapar itu butuh makanan. Kadang yang lapar itu emosi, betul kan?
Ibadah pun terasa beda. Lebih tulus. Lebih tenang. Nggak lagi dikejar target dunia. Aku menikmati momen ketika doa dilafalkan pelan, ketika sujud terasa lama, ketika hati seperti dibersihkan dari debu-debu kecil yang nggak kelihatan.
Dan di sela-sela itu, aku bahagia saat sendiri.
Menulis di blog jadi ruang rahasiaku. Aku bisa jadi versi paling jujur. Kadang reflektif. Kadang bijak. Kadang… nyampah tipis-tipis. Ya, aku masih manusia.
Ibadah pun terasa beda. Lebih tulus. Lebih tenang. Nggak lagi dikejar target dunia. Aku menikmati momen ketika doa dilafalkan pelan, ketika sujud terasa lama, ketika hati seperti dibersihkan dari debu-debu kecil yang nggak kelihatan.
Dan di sela-sela itu, aku bahagia saat sendiri.
Menulis di blog jadi ruang rahasiaku. Aku bisa jadi versi paling jujur. Kadang reflektif. Kadang bijak. Kadang… nyampah tipis-tipis. Ya, aku masih manusia.
Kadang mentertawakan orang-orang yang prinsip hidupnya beda tapi nyinyirnya nauzubillaaah. Ini ada di offline dan online, pastinya, dan yang terbaru ada di grup yang aku sedang berjuang nulis rutin tahun ini. Rada kesel dikit, tapi ya udahlah yaaa.. aku sadar, orang nyinyir itu biasanya emang sedang bermasalah dengan hatinya sendiri. Hidupnya blom kelar.
Untung, aku rada lemot kalo marah, gak langsung nge-gas gitu. Dari dulu, kalo orang pada berantem, aku gak ikutan panas dan menyerang. Bohong kalo ngga deg-degan, tapi biasanya aku nge-freeze sejenak dulu. Ntar kalo dah tenang, aku mikir ulang, misuh-misuh curhat di diary, terus berusaha senyum, dan melanjutkan hidupku.
Karena ternyata berdamai dengan diri sendiri itu senikmat itu.
Seperti nonton konser di gadget.
Iya, cuma di laptop. Sambil kerja. Sambil ngopi. Tapi ketika musik mengalun dan aku larut dalam lagu pake headset, rasanya seperti ada bagian jiwa yang ikut menari. Aku bisa senyum sendiri. Bisa tepuk tangan kecil. Bisa rewind lagu favorit berkali-kali tanpa malu, dan .. yaaa .. selain musik soulful jazz funk atau groove, aku juga lagi suka lagu-lagu Thailand atau Jawa energik yang dinyanyiin Jirayut hahaha :D
Healing versi emak-emak Gen X yang hatinya Gen Z *gapapa kan yaaaa.. (bilang gapapa, gitu!)
Dan tentu saja, flirting sama suami...
Fase sekarang itu lucu. Kami lebih seperti sahabat yang kebetulan menikah. Ngobrol tanpa beban. Bahas hal receh. Ketawa tanpa takut dihakimi. Kadang saling ledek. Kadang saling puji tipis-tipis.
Romantis versi dewasa itu bukan lagi drama atau kejutan besar. Tapi kenyamanan. Persahabatan. Duduk bareng, minum kopi, dan tahu bahwa kita aman satu sama lain.
Anjaaay, ternyata cinta bisa setenang ini, mas bro!
Semua hal kecil itu, saat ini membuatku merasa benar-benar hidup. Aku menjalani apa yang aku suka saja. Banyak-banyak doa untuk anak-anak, memantau tapi tetep jadi bestie mereka, karena buatku itu penting.
Bukan hidup yang riuh. Tapi hidup yang sadar.
Aku merasa napasku utuh. Aku merasa hadir. Aku merasa cukup.
Dan di ujung semua itu, ada rasa syukur yang nggak bisa dijelaskan panjang lebar. Aku lagi ada di fase berterima kasih. Pada Allah yang menjaga langkah-langkahku. Pada semesta yang mendewasakanku lewat pengalaman; baik yang manis maupun yang pahit. Pada diri sendiri yang ternyata kuat.
Merasa diri “hidup” itu anugerah luar biasa.
Karena ada banyak orang yang berjalan, bekerja, tertawa… tapi sebenarnya mati rasa di dalam. See?
Aku nggak mau begitu.
Aku mau sadar saat minum kopi.
Mau sadar saat menulis.
Mau sadar saat berdoa.
Mau sadar saat mencintai.
Dan mungkin, terkoneksi dengan diri sendiri bukan tentang menemukan versi baru. Tapi menerima versi sekarang dengan penuh kasih.
Aku di fase yang tenang. Nggak sempurna, tapi utuh.
Dan jujur saja…
fase ini bikin aku amaze sama perjalanan hidupku sendiri.
Karena ternyata berdamai dengan diri sendiri itu senikmat itu.
Nggak semua opini harus dilawan.
Nggak semua komentar perlu dibalas. Energi itu mahal. Dan aku memilih menggunakannya untuk hal yang bikin aku hidup.
Nggak semua komentar perlu dibalas. Energi itu mahal. Dan aku memilih menggunakannya untuk hal yang bikin aku hidup.
Seperti nonton konser di gadget.
Iya, cuma di laptop. Sambil kerja. Sambil ngopi. Tapi ketika musik mengalun dan aku larut dalam lagu pake headset, rasanya seperti ada bagian jiwa yang ikut menari. Aku bisa senyum sendiri. Bisa tepuk tangan kecil. Bisa rewind lagu favorit berkali-kali tanpa malu, dan .. yaaa .. selain musik soulful jazz funk atau groove, aku juga lagi suka lagu-lagu Thailand atau Jawa energik yang dinyanyiin Jirayut hahaha :D
Healing versi emak-emak Gen X yang hatinya Gen Z *gapapa kan yaaaa.. (bilang gapapa, gitu!)
Dan tentu saja, flirting sama suami...
Fase sekarang itu lucu. Kami lebih seperti sahabat yang kebetulan menikah. Ngobrol tanpa beban. Bahas hal receh. Ketawa tanpa takut dihakimi. Kadang saling ledek. Kadang saling puji tipis-tipis.
Romantis versi dewasa itu bukan lagi drama atau kejutan besar. Tapi kenyamanan. Persahabatan. Duduk bareng, minum kopi, dan tahu bahwa kita aman satu sama lain.
Anjaaay, ternyata cinta bisa setenang ini, mas bro!
Semua hal kecil itu, saat ini membuatku merasa benar-benar hidup. Aku menjalani apa yang aku suka saja. Banyak-banyak doa untuk anak-anak, memantau tapi tetep jadi bestie mereka, karena buatku itu penting.
Bukan hidup yang riuh. Tapi hidup yang sadar.
Aku merasa napasku utuh. Aku merasa hadir. Aku merasa cukup.
Dan di ujung semua itu, ada rasa syukur yang nggak bisa dijelaskan panjang lebar. Aku lagi ada di fase berterima kasih. Pada Allah yang menjaga langkah-langkahku. Pada semesta yang mendewasakanku lewat pengalaman; baik yang manis maupun yang pahit. Pada diri sendiri yang ternyata kuat.
Merasa diri “hidup” itu anugerah luar biasa.
Karena ada banyak orang yang berjalan, bekerja, tertawa… tapi sebenarnya mati rasa di dalam. See?
Aku nggak mau begitu.
Aku mau sadar saat minum kopi.
Mau sadar saat menulis.
Mau sadar saat berdoa.
Mau sadar saat mencintai.
Dan mungkin, terkoneksi dengan diri sendiri bukan tentang menemukan versi baru. Tapi menerima versi sekarang dengan penuh kasih.
Aku di fase yang tenang. Nggak sempurna, tapi utuh.
Dan jujur saja…
fase ini bikin aku amaze sama perjalanan hidupku sendiri.



Subhanallah, ini tahap clarity paling bijak mbaaa. Saya baru masuk tahap ini, tapi mba sudah dengan gamblang menjelaskan ke-clarity-an dengan sederhana. Makasih udah berbagi.
BalasHapusBtw, iyaaaa deh boleh banget gen X berjiwa gen Z, hihihi 😁
Gak banyak looh gen X yang bisa sampai ke tahap ini seperti mba, saya berharap semua bisa karena, di usia yang udah gak muda ini, kita beneran melihat hidup sejelas itu, males drama dan lebih menghargai energi sendiri. Entah itu hub sosial atau dg pasangan, kualitas hubungan pun bukan berubah arah hanya berubah bentuk.
Ya ampuuun Eka, keren banget dah berkunjung dan kasih insight, makasih loooh....
HapusIya pengen banget bikin reels tentang ini sebenernya
#tosss gue banget
BalasHapushidup ini harus dinikmati, "ojo kemrungsung" kata orang Jawa
saya pun sekarang berpikir beberapa kali untuk komen
kadang udah nulis panjang-panjang, saya hapus lagi
karena seperti kata Mbak Tanti, energi itu mahal, gunakan untuk aktualisasi diri
dengan membuat tulisan di blog dan blog walking :D
Di seumuran kita gini, hidup dengan sehat dan hati tenang aja sudah bersyukur ya Tan. Cuma dua itu modal terpenting buat ngapain aja. Ngasih waktu juga buat keimanan kita semakin bertambah. Seperti kata temen-temenku. Masuk usia 45 insafnya harus lebih banyak. Insaf menyiapkan masa pensiun, insaf untuk slow living, insaf untuk gak tergopoh-gopoh dan nafsuan saat masih muda. Dahlah seng penting sehat dan masih bermanfaat bagi, setidaknya, orang-orang di dekat kita.
BalasHapusSama suami juga kudu lebih patuh. Jangan kebanyakan permintaan yang bikin suami sutris. Terima apa adanya dan naikkan rasa bakti. Kalo dah nikah di atas 25 tahun sih rasa sayang dan cinta kita sama suami dah beda levelnya ya. Gak perlu tersiksa sama emosi dan keinginan dunia. Wes dah lewat masanya.
Di usia2 sekarang keknya maunya hidup tenang, mensyukuri apa yang ada, tapi jujur kalau soal kebijakan pemerintah aku masih belum tenang, jadi masih suka kritik, soalnya itu mempengaruhi masa depan anak2ku wkwkwk.
BalasHapusTapi kalau urusan2 lain aku dah masa bodoh.
Udah banyak membatasi pergaulan juga, udah mulai jarang keluar rumah kalau tujuannya hanya sekadar kongkow2.
Memilah2 mana aktivitas yang baik dan membawa banyak manfaat.
Hihihi idem banyak puasa soalnya zaman sekarang penyakit ngeri2 apalagi dari makanan, jadi maunya makan secukupnya aja ya.
Duh makjleb banget. Pas bagian mulai berhenti bertanya “apa yang kurang” dan beralih ke “apa yang sudah cukup”. Kelihatannya sederhana, tapi ternyata butuh proses panjang ya untuk sampai di titik itu ya mbak.
BalasHapusSeneng banget dapat suami dari sahabat, kemudian kebetulan menikah. Hehehe. biasanya lebih tahan lama dan terasa nyaman. Amin amin amin. Sehat selalu mbak