Kita Nggak Pernah Cuma Hidup di Satu Circle (dan Itu Nggak Salah)




Dulu aku sempat mikir hidup itu idealnya rapi. Punya satu ajah circle utama, satu identitas sosial, satu tempat pulang. Kayak hidup versi template: kerja di satu bidang, nongkrong sama orang yang itu-itu aja, mindset sefrekuensi, beres.

Spoiler alert: realita nggak begitu, sist!

Semakin ke sini, aku sadar—dan ini breakthrough kecil tapi ngaruh—bahwa manusia itu nggak pernah benar-benar hidup di satu circle doang (jangan ya dek, yaaa)
Bahkan circle keluarga dan saudara sekalipun. Kita bisa dekat, intens ngobrol, bahkan masuk fase talking stage—yang definisinya simpel: ngobrol tiap hari—tapi tetap aja, itu belum tentu berarti kita hidup di ruang yang sama.

sst... ini berlaku juga untuk yang HTS-an di luaran sono 🙂

Dan itu normal. Bukan tanda gagal jadi manusia sosial, yaaa.. bukan. Ini tu emang pola gaoel jaman now.

Circle Itu Bukan Kotak, Tapi Spektrum



Circle pertemananku kalau di-list mungkin kelihatan random, tapi justru di situ polanya kelihatan.
  • Aku punya circle blogger, penulis, dan doodler—yang isinya orang-orang dengan kepala penuh ide, deadline imajiner, dan overthinking eksistensial. Lalu ada circle perempuan berkebaya, yang vibes-nya lebih ke akar, budaya, dan keanggunan yang tenang.
  • Belum lagi circle alumni sekolah—dari Kaltara sampai Jakarta, plus alumni kuliah ITI. Tiap circle punya bahasa sendiri. Ada yang ngobrolannya berat dan reflektif, ada yang to the point, ada juga yang isinya nostalgia receh tapi bikin hangat.

Dan hidup makin terasa nyata ketika masuk ke random circle:
  • Teman senam di kampung (yang update hidupnya lebih cepat dari grup WA),
  • Teman satu angkatan yang isinya cuma 6 biji tapi solid,
  • Circle mom-mom para alumni anak sekolahan. FYI, anak kite banyak buuun, jadi kaliin aja sendiri banyaknya grup kalo tu emak-emak bikin masing-masing alumni
  • Circle mom cyantik yang hobinya nongkrong dan kulineran,
  • Sampai circle curhat YTTA: Yang Tau-tau Ajah
Temen yang kategori YTTA ada beberapa orang.

Ada temen alumni SMA, namanya Pras - nah ini juga temen Pencak Silat, jadi lumayan akrab banget, lalu ada alumni ITI yang actually senior aku, yaitu Indah Triana yang dipanggil Emak Naga saking di mana-mana dia tuh bestie super keren...  dan mas Aan Nataigama - ini  manusia yang tak kalah keren, karena super pinter - humble - sering sharing kebaikan tanpa pamrih. Ini bestie tier A juga sih buat aku untuk talking stage tanpa saling mengganggu kehidupan masing-masing.

Terus aku juga punya grup yang boleh ngobrol apa aja karena se-frekuensi - start dari senior sampe junior nih. Di sini banyak sevisi misi, walau sering berantem  eh adu argumen hahaha... 

Di kalangan blogger, aku juga punya beberapa temen yang sering deep talk walau engga sampe talking stage karena you know laaa.. blogger itu super duper sibuk ..uhuk..

Nah selain temen yang jelas ujung pangkalnya, ada yang unik juga, karena sebenernya dia sahabat bang Dho dan lalu malah jadi sahabatku, namanya bu Wiwie dan Maya. Ini sahabat yang kalo deket juga jadi temen deep talk aku.

Di beberapa circle, kita akan tak sengaja menemukan temen yang masuk fase talking stage—chat tiap hari, saling update, kadang lebih intens dari hubungan resmi. Tapi anehnya, intensitas ngobrol nggak selalu berbanding lurus dengan kedalaman koneksi.

Dan di situ aku belajar: sering ngobrol bukan berarti selalu sejalan.

Shifting Paradigm: Intens ≠ Selalu Sejalan



Ini bagian yang paling mind-blowing buatku.

Dulu aku nganggep kalau sudah talking stage—ngobrol tiap hari, bahas hal random sampai personal—berarti kita satu frekuensi. Ternyata enggak selalu. Ada orang yang hadir tiap hari di chat, tapi nggak hadir di fase hidup kita.

Dan itu bukan salah siapa-siapa.

Setiap circle menarik sisi tertentu dari diri kita. Bukan berarti kita palsu. Justru sebaliknya—kita lagi utuh. Karena manusia itu kompleks, bukan karakter satu dimensi.

Lucunya, breakthrough hidup justru sering datang dari circle yang nggak kita rencanakan. Dari obrolan ringan, dari senam pagi, dari nongkrong kulineran, dari curhat YTTA yang nggak nyari solusi tapi bikin napas lega.

Bahkan Keluarga Pun Adalah Banyak Circle!



Ini bagian yang agak sensitif tapi jujur: keluarga dan saudara juga bukan satu circle tunggal. Ada peran, ada jarak emosional, ada fase. Kita bisa sayang, bisa sering ngobrol (bahkan talking stage versi keluarga 😅), tapi tetap nggak selalu saling paham 100%.

Dan itu nggak apa-apa.

Nggak semua orang harus jadi tempat kita menaruh semua versi diri. Kadang cukup tahu:

di circle ini aku jadi pendengar,
di circle itu aku jadi penggerak,
di circle lain aku cuma jadi manusia capek tapi aman.

Hidup Itu Multiverse, Bukan Satu Timeline


Sekarang aku berdamai dengan satu hal: hidup bukan tentang memilih satu circle dan setia mati-matian di situ. 

Hidup itu kayak multiverse—banyak versi kita hidup bersamaan, saling melengkapi.

Talking stage boleh ada. Circle boleh banyak. Geser-geser frekuensi juga sah.

Selama kita jujur sama diri sendiri, nggak menyakiti, dan tahu kapan datang, kapan pamit dengan elegan—punya banyak circle bukan tanda kehilangan arah.

Justru itu tanda kita bertumbuh.

Dan kalau hari ini kamu ngerasa,
“kok hidup gue bercabang-cabang banget ya?”

Tenang.
Mungkin kamu bukan tersesat.
Mungkin kamu lagi naik level.

Komentar

  1. Ya Allaah, Bu...
    Kok semua bener yaa...
    Kalo dipikir2 kadang bingung mau kemana ngajak siapa, ya? Berasa ngga punya kawan.
    Padahal grup WAnya puluhan tinggal milih mau ngajak siapa.
    Pertanyaannya yng diajak mau apa ngga? Yang diajak nganggap kita sedekat itu apa ngga? hahaa

    Tapi yang pasti, aku emang ngga punya temen yang deket bangeeet kek sampe tempat curhat gitu. Semuanya berteman sekedarnya saja. Makanya yaa bener juga kalo mau kemana2 bingung ngajak siapa. Untung introvert wkwkkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. hah masa sih Suci introvert ?
      lah kalo aku malah kadang sebaliknya, aku malah banyak ga mau diajak ke sana ke sini, kayak ... kalo ga penting amat wasting time gitu...

      Hapus
  2. Bukan tersesat, mungkin sedang naik level. Ah, suka dengan kalimat penutupnya mbak.
    Dan sepakat, emang di tiap circle, peran kita tuh bisa beda-beda. Makanya kadang di circel A, saya lebih banyak diam dan jadi pendengar. Di circle B, saya suka aktif dan banyak omong.

    BalasHapus
    Balasan
    1. makaasih mbak Nanik, iya kuanggap tiap "challenge" itu = supaya naik level aja sih biar semangat tetep manteng di situ

      di setiap circle pasti ada aja yang seru seru ya

      Hapus
  3. We friends with the universe. Aku juga gak punya circle istimewa. Semua berjalan apa adanya. Hanya hobi dan atau ketertarikan akan sesuatu hal yang menjadi kesamaan kemudian menjadi bersama-sama. Kadang ada cerita seru dan hanya beberapa yang menyatu di hati. But I'll let them flow as it is.

    BalasHapus
    Balasan
    1. circle "istimewa" ku dirimu loooh An, seseorang yang udah sukses tapi tetep humble itu gimanaaa gituuuu

      Hapus
  4. Grup WAku juga banyak, temen banyak, yang secircle juga banyak tapi emang ngga bisa nyalahin diri sendiri juga kalo pada akhirnya lebih seneng ke mana-mana sendiri. Ada saatnya pergi dengan temen secircle, temen deket bak besti, dengan keluarga, anak, tapi tetep pergi sendiri itu juga gpp untuk kenyamanan diri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ooh waaw... aku belum ada di tahap pergi sendirian banget sih, jadi belum bisa (atau emang ga bisa hehheee) mendeskripsikannya

      Hapus
  5. malah saya pernah punya keinginan punya circle blogger aja deh
    Ternyata gak bisa karena gak cukup
    bagaimana pun kita mahluk sosial ya? Jadi circle pertemanannya sangat beragam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya pernah loh Ambu, punya pemikiran yang sama, ngerasa saya harus "loyal" di satu circle - apalagi circle tersebut berkaitan dengan pekerjaan, relate dengan masa saat ini (present time) .. tapiii kemudian saya kecewa, dan kekecewaan itu pastinya terkait oknum, oknum dan oknum yaaa.. ya udah habis itu berubah semua POV saya

      Hapus
  6. Agree banget sih kalau begini, karena emang kita tuh punya banyak dimensi ya kak, ya sebagai pegawai, ayah, ibu, anggota masyarakat, dll.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aah bener banget ini, kalimatnya keren, makasih mas

      Hapus
  7. Menariknya orang supel kaya mba Tanti ini punya banyak circle, jadi punya bermacam perspektif. Yang penting dari semua itu adalah punya circle yang sehat bukan melulu soal jumlah tapi tentang kualitas hubungan di dalamnya

    BalasHapus
  8. Aku pernah dengar ungkapan, katanya kalo makin berumur, circle kita makin menyempit. Ini benar. Tapi meski menyempit, kita gak akan mungkin cuma punya 1 circle. Di keluarga aja kita punya banyak circle, keluarga suami, keluarga istri. Apalagi di luar itu?

    BalasHapus
  9. Suka banget sama statement bahwa hidup ini multiverse. Mungkin garis waktunya bisa linear tapi dalam waktu bersamaan bisa bergaul dengan circle yang beda-beda

    BalasHapus
  10. Baca artikel ini serasa dapat banyak pencerahan. Circle itu gapapa banget luas dan beragam, dari situ banyak hal yang diraih. Terpenting, tetap jujur menjadi diri sendiri dan bisa menempatkan diri. Suka banget sama cara berpikirnya, sangat luwes dan cerdas banget Bu.

    Inspiratif sekali, nggak nyesel bacanya. Berasa kayak lagi di cubit, diingetin secara baik. Hidup itu berwarna kalau punya banyak circle, makin luas wawasannya dan pengalaman hidup adalah guru terbaiknya. Ciamik pisan.

    BalasHapus
  11. Memang benar ya, kadang kita lupa kalau hidup tuh berwarna. Kitanya pun terkadang menjadi pendengar di circle ini, bawel di circle yang lain. Nah kalau bawel biasanya saya merasa nyaman banget deh ma circle itu hehehe;

    BalasHapus

Posting Komentar

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)

Postingan Populer