Friday, February 7, 2014

The Passionate Writing For Me



Gairah Yang Indah

Menjadi Ibu Rumah Tangga total selama hampir sepuluh tahun bukanlah cita-citaku yang utama. Tenggelam dalam kesibukan menanti buah hati (lebih dari 5 tahun) dan diberi anugerah luar biasa karena mereka akhirnya hadir susul menyusul, memang membuatku bahagia. 

Tapi, lalu apa? Rasanya ada sesuatu yang ‘hilang’ setelah aku memutuskan tidak bekerja lagi. Nah, aku tahu kalau aku punya passion menulis awalnya saat aku disuruh menjadi tutor dalam kajian Alqur'an, sederhana saja : meringkas lalu menceritakan kembali.  

Aku memakai jasa warnet kala itu. Setahun aku timbul tenggelam bersama anak-anak di warnet (mereka diboyong ke warnet semua.. hahah) dengan biaya tinggi dan pekerjaan rumah yang terbengkalai *kan kalo sudah menulis suka lupa waktu - dan, jangan lupa, uang jajan meningkat!

Saat itulah aku menyadari ada gairah yang timbul. Desakan kuat untuk menuliskan apa saja, hingga aku memutuskan untuk ikut dalam pelatihan menulis di sebuah komunitas bernama Women’s Script. 

Passionate writing doesn’t mean you have to write about romance or erotica. Writing with passion is to write authentically and from the heart.


No Pain No Gain

Setelah beberapa kali mengikuti pelatihan menulis (yaa, semua bentuk pelatihan aku ikuti karena penasaran dengan berbagai jenis dan bentuk tulisan). Walaupun mengurangi jatah dapur, ahaa.. Aku juga memberanikan diri mengikuti berbagai lomba, kontes maupun kuis yang ada di berbagai komunitas dan blog.

Alhamdulillah, aku sering sekali menang, hingga satu kali para pengasuh komunitas berkata, “Mbak Tanti boleh ikut, untuk meramaikan saja yaa.. tapi ngga berharap menang untuk memberi kesempatan pada yang lain!” aku bersyukur sekaligus tertawa geli membacanya..

Bukan hanya itu, suami dan anak-anak juga sangat mendukung sehingga sekarang diberikan berbagai kemudahan dan fasilitas. Yang tadinya tak memiliki komputer, sekarang ada dua buah komputer dan laptop, ditambah kemudahan wi-fi. Ia mengerti aku juga sesekali harus menyapa teman-teman penulis atau editor dan penerbit.

Jadi, Kenapa Harus Menulis?

Selain alasan klise seperti : bisa bekerja di mana saja dan kapan saja hingga tak terikat waktu, selain mendatangkan penghasilan sambil bisa tetap mengawasi anak-anak di rumah, aku juga merasa tidak gampang terpicu amarah maupun emosinya. 

Disamping itu, menulis membuat otak kita selalu waspada dan menyerap berbagai situasi dan kondisi di masyarakat. Menulis dengan passion, sama seperti mengajak seseorang berbincang dalam membahas satu topik dengan fokus dan dalam. 

Hebatnya lagi, dengan menulis mendekatkan diri kita pada banyak perusahaan dan penerbitan. Di komunitas, aku juga sering mendapat undangan menghadiri peresmian produk, bedah buku, syuting di televisi, rekaman di radio dan .. ini dia.. jalan-jalan!

Arti menulis dari hati menurutku..

Aku berusaha menulis segala sesuatu dengan hati. Jika itu berupa artikel, aku takkan puas dengan hanya mengandalkan mesin pencari di internet, tapi juga kalau bisa mengambil gambar dan melakukan wawancara. Kadang dilihat orang aneh dan istilah jaman sekarang ini kepo, ya..

Jika sedang menulis novel atau cerita fiksi,
aku turut merasakan obyek dalam tulisanku bergerak, laksana sebuah filem yang tayang. Kadang, detak jantungku berdegup lebih kencang ketika tokoh-tokohku berinteraksi. 

Aku juga pernah jatuh cinta pada satu sosok tokoh antagonis dalam novelku! Karena tokoh antagonis tidak berarti sosok kejam tanpa dasar, kan? Ia punya alasan tersendiri dalam melakukan sesuatu. Ingat saja tokoh dalam novel Perfume karangan Patrick Suskind. Tokoh utamanya adalah si pembunuh!

Tantangan kala menulis

Kala menulis,
Segenap perhatian yang tercurah akan membuat imajinasiku bergerak lincah. Kubiarkan interaksi mereka mengalir hingga jemariku mengetik tanpa henti, merasakan adegan demi adegan…

Oya, aku juga sering mengintip berbagai diksi populer, semata demi membuat tulisanku ‘update’ – valid dan relevan seiring jaman. Itu juga membuat perbedaan dari penulis lain, bukan?

Selain menulis fiksi dewasa, aku juga menikmati menulis bacaan anak-anak. Padahal dulu aku tidak tahu dunia anak yang sebenarnya. 

Tantangannya? Tentu saja ada. Memilih karakter yang unik dan melekat dalam ingatan anak-anak, sekaligus memberi masukan dan pengetahuan tanpa menggurui! 

Berbagilah, Maka Duniamu Akan Semakin Indah!

At last,
Dengan kemudahan telekomunikasi, jaringan internet serta kecanggihan teknologi gadget, dunia menulis menjadi semakin marak dan mudah. Saat ini, banyak sekali anak-anak, remaja hingga pensiunan meramaikan dunia penerbitan.

Ada satu kalimat menarik yang aku kutip dari seorang penulis senior, Zara Zettira saat acara bedah buku bersama komunitas Women’s Script dan Wajah Bunda Indonesia kemarin.

“Jangan jadikan tulisan kita sebagai komoditas belaka, trend menulis ini, semua ikut. Booming menulis itu, semua ikut-ikutan. Hingga idealisme kita sebagai penulis terabaikan.”

Saat ini kuusahakan menjadi penulis yang efektif dengan berbagi juga kepada teman-teman penulis lain. Selain kami saling berbagi informasi, juga berguna untuk introspeksi. Yup, passionate writing really does sell..


No comments:

Post a Comment

Thanks sudah mengunjungi blog Neng ya, sahabat ^_^