Menggambar Perjalanan, Menghidupkan Kota

 

Orang-orang yang mengenalku sejak kecil, pasti tahu aku si Neng yang sukanya “apa-apa digambar dulu.”

Ke kafe, lihat gelas lucu, digambar. Lihat kucing tidur di pojokan, digambar. Pergi ke luar kota? Nah, ini makin bahaya. 

Koper kecil isinya akan bersaing antara peralatan gambar dengan baju-baju. Karena buatku, perjalanan itu nggak cuma untuk dilihat atau difoto, tapi untuk 'ditangkap' melalui garis dan warna. Ada rasa yang beda ketika sebuah kota nggak cuma mampir di galeri handphone, tapi benar-benar singgah di kertas sketsaku. Menurutku, perjalanan bermakna lebih dari sekadar kunjungan, dan memorinya akan hidup di benakku!

Travel and Draw, Itu Gue Banget (Walau Masih Level Doodle Receh)


Sejujurnya… siapa sih yang nggak suka traveling? 

Pergi ke tempat baru itu rasanya kayak nge-refresh otak tanpa harus update software. Kita bisa melihat pemandangan yang nggak biasa, mencium aroma kota yang beda, mendengar bahasa yang kadang nggak kita pahami tapi tetap terasa hangat. Traveling itu bukan cuma soal pindah lokasi, tapi pindah perspektif.

Apalagi buatku dan adik-adik yang lahir dan besar di Kaltara, almarhum Bapak mengajarkan anak-anaknya tentang dunia luar ya dengan sering mengunjungi tempat-temapt baru. Buat kami, anak-anak piyik, mengunjungi kota besar seperti Tawau, Kuching, Sandakan dan Lahad Datu (kota ujung utaranya Malaysia) menjadi pelarian dari hidup di kota terpencil Nunukan waktu itu.

Nah, buat aku yang hidupnya emang sejak kenal pensil (kalo ga salah, Ibu yang bilang, sejak umur setahunan aku itu sukanya mencoret apa pun yang ada di depanku!) Jadi karena aku emang suka banget menggambar, ada satu level traveling yang menurutku next level banget: traveling sambil menggambar!


Travel and Draw? Yes. PLEAAASEEE!


Kalian kalo pergi, suka bawa barang wajib apa?

Sebuah benda yang rasanya kayak bawa rumah kecil di dalam tas. Begitulah aku dengan peralatan pensil, spidol hitam snowman dan buku-buku sketsaku.  Setiap kali aku jalan-jalan sambil nyelipin buku sketsa, ada sensasi deg-degan yang aneh tapi nagih. Kayak, “Hari ini kota mana yang bakal aku abadikan, ya?” Bukan cuma buat kenang-kenangan, tapi buat ngobrol diam-diam sama tempat itu.

Oya, sekedar tahu aja, dulu aku bikin sendiri loh buku sketsa ini. Diajarin sama Ibu pertama kali untuk bawa semacam folder, karena beliau tahu banget, aku bukan sejenis anak yang menggambar dengan tekun di satu buku!

Gak usah tanya kenapa yaaa.. tapi kalo kalian ke rumah pasti gemes liatnya .. ada buku yang baru setengah diisi, dan isinya bisa random gitu, mulai dari ujung depan, sama ujung belakang, tengahnya masih kosong!



Yaaa siiih... kadang memang realitanya nggak seindah bayangan. 

Gak bisa juga pergi, terus duduk manis, buka sketchbook, pegang pensil… apalagi kalo perginya serombongan gitu. Pasti adaaa aja tiba-tiba terdistraksi. Entah karena cahaya lagi cakep banget buat difoto, atau karena perut tiba-tiba drama minta diisi. Sketsanya jadi setengah. Garisnya belum selesai. Tapi justru di situ serunya. Ada jejak momen yang nggak sempurna, tapi jujur.


Btw di tengah proses itu, sebagai anak blogger ceria, aku juga suka nulis pengalaman jalan-jalan di blogku dan blog lain yang aku follow — salah satunya Blog Tulisandin

Di sana banyak review tempat, kisah seru, sampai rekomendasi yang relatable banget buat traveler ala-ala macam aku. Kadang setelah selesai gambar, aku buka kategori review di Blog Tulisandin buat baca inspirasi destinasi baru atau cari insight tempat-tempat yang mungkin cocok buat sketsaku berikutnya!

Bawa buku sketsa saat traveling buatku bukan soal harus menghasilkan gambar yang “wah.” Tapi soal memberi diri izin untuk berhenti. Mengamati lebih lama. Memperhatikan detail yang orang lain mungkin lewati, warna tembok yang pudar, papan nama yang hurufnya miring, cara cahaya sore jatuh di atap-atap tua.

Dan ketika akhirnya garis pertama ditarik, rasanya kayak bilang ke kota itu, “Aku lihat kamu. Aku benar-benar lihat looh!”

by Max Lalande - Pinterest



Sejujurnya suka ngiri deh sama para seminan yang levelnya sudah tingkat dewa. Mereka berjalan, mengamati, lalu menuangkan pengalaman dalam ilustrasi yang detail dan hidup. Bukan sekadar foto dengan filter estetik, tapi peta, bangunan, cerita kecil, sampai rekomendasi tempat makan yang digambar dengan gaya personal mereka sendiri. Itu bukan cuma dokumentasi. Itu interpretasi!

By Courtney Young


Apalah aku ini, yang masih di fase setengah sketsa, setengah selfie, setengah (ngaku-ngaku tukang doodle) Tapi setiap kali membawa buku sketsa dalam perjalanan, aku tahu satu hal: kota itu nggak cuma lewat di depan mata. Dia sempat singgah, walau sebentar, di halaman kertas dan di hatiku.


Gadget Merubah Segalanya

Hahahaa.. sejak kenalan sama gadget, ya emang semua serba berubah, yaa... Gue ngaku banget. Jujur, sekarang kalo bepergian tuh, sketsanya kelar setengah, terus sibuk foto-foto.

Ya walau memang ada banyak seniman yang serius. Mereka benar-benar jalan, mengamati, lalu menuangkan pengalaman itu dalam bentuk ilustrasi. Bukan sekadar foto yang di-filter, tapi peta, bangunan, cerita, sampai rekomendasi tempat makan digambar dengan gaya personal yang unik banget.

Aku waktu tahu tentang They Draw & Travel.

By Renhong - Korea


Aku pastinya excited waktu pertama kali kenal ada komunitas Travel and Draw. Situs ini didirikan tahun 2011 oleh duo kakak-adik kreatif, Nate Padavick dan Salli Swindell. Konsepnya sederhana tapi jenius: mengumpulkan ilustrator dari seluruh dunia untuk berbagi pengalaman traveling mereka dalam bentuk peta bergambar.

Bukan peta formal kayak atlas sekolah zaman dulu. Tapi peta yang hidup. Penuh warna, penuh karakter, dan yang paling penting: penuh cerita.

Sejalan perkembangan waktu, They Draw & Travel dikenal sebagai koleksi peta bergambar online terbesar yang dibuat oleh seniman, ilustrator, dan para doodlers dari berbagai negara. Bayangin deh, satu tempat bisa diceritakan dengan sudut pandang yang beda-beda, tergantung siapa yang menggambar!

Dan dari proyek itu, lahirlah buku berjudul 100 Illustrated Maps of American Places.


Buku ini berisi pilihan 100 ilustrasi tempat di Amerika Serikat, dibuat oleh para kontributor komunitas kreatif They Draw & Travel. Isinya bukan cuma gambar cantik. Tapi perspektif pribadi. Kadang praktis. Kadang quirky. Kadang random tapi justru itu yang bikin relatable.

Misalnya, kamu tahu nggak harus ke mana kalau mau mendaki di Brooklyn? Atau ternyata ada lebih dari 36 tempat makan ayam mete di Springfield, Missouri? Atau spot seru buat anak-anak di Los Angeles? Rute sepeda yang cakep di Vermont? Hotspot yang underrated di Anchorage, Alaska?

Serandom ini nih..







Pokoke, informasi yang mungkin nggak akan kamu temukan di brosur turis mainstream.

Yang bikin aku mikir adalah: ketika seseorang menggambar tempat yang dia datangi, dia nggak cuma merekam lokasi. Dia memilih. Dia menyaring. Dia memutuskan, “Ini yang menurutku penting. Ini yang menurutku menarik. Ini yang menurutku layak dibagikan.”

Itu personal banget.

Kalau foto kadang cuma soal angle dan lighting, ilustrasi adalah soal rasa.

Traveling jadi nggak sekadar checklist destinasi, tapi proses menyerap dan memaknai.

Sebagai penulis dan illustrator (yang kadang lebih sering rebahan daripada jalan-jalan, jujur aja), aku merasa konsep ini kayak tamparan manis. Selama ini kita sering merasa harus traveling jauh, mahal, atau ke luar negeri supaya “valid.” 




Bayangin kalau setiap kali aku ke Bogor, Yogya, atau bahkan cuma ke pasar tradisional dekat rumah, aku duduk sebentar, mengeluarkan sketchbook, lalu menggambar suasananya. Tukang sayur yang cerewet tapi hangat. Warna payung pedagang yang tabrakan tapi estetik. Tulisan tangan di papan harga yang unik banget.

Itu sudah jadi travel story versi aku.

Dan yang paling aku suka dari 100 Illustrated Maps of American Places adalah cara buku ini merayakan kota-kota yang sering dianggap “biasa.” Nggak cuma kota besar dan ikonik, tapi juga tempat-tempat yang mungkin selama ini terabaikan atau kurang dihargai.

Seolah buku ini bilang: setiap tempat punya cerita, asal ada yang mau melihatnya.

Di era digital sekarang, ketika semua orang bisa upload foto dalam hitungan detik, menggambar jadi terasa slow living banget. Kita dipaksa berhenti. Mengamati detail. Menghargai bentuk bangunan. Memperhatikan pola jalan. Bahkan mungkin ngobrol sama warga lokal demi memahami tempat itu lebih dalam.

Ada proses kontemplatif di sana.

Dan buatku, itu healing.

Travel and draw bukan cuma soal skill menggambar. Tapi soal keberanian untuk merespon dunia dengan cara yang lebih personal. Kita nggak cuma jadi konsumen pengalaman, tapi juga kreator narasi.



Aku jadi mikir, mungkin di Indonesia juga banyak kota yang bisa diceritakan dengan cara serupa. Peta bergambar tentang gang-gang kecil di Jakarta. Ilustrasi warung legendaris di Yogya. Rute motoran santai di Puncak. Atau spot jajan anak-anak kampus yang underrated tapi selalu rame.

Bisa jadi proyek komunitas. Bisa jadi buku. Bisa jadi gerakan kecil yang bikin orang melihat kotanya sendiri dengan mata yang lebih apresiatif.

Dan honestly, konsep kayak gini bikin traveling terasa lebih mindful. Nggak cuma buru-buru ke destinasi berikutnya, tapi benar-benar hadir di tempat itu.

Entah kamu lagi di jalan raya Alaska atau cuma duduk di bangku taman kota, menggambar membuat momen terasa lebih lama. Lebih dalam. Lebih nempel di hati.

Akhirnya aku sadar, travel and draw itu bukan tentang jadi ilustrator kelas dunia dulu baru boleh mulai. Tapi tentang membiarkan diri kita kagum, lalu berani menerjemahkan kekaguman itu dalam garis dan warna.

Kalau selama ini aku nulis cerita perjalanan, mungkin next step-nya adalah menambahkan sketsa kecil di sela-sela paragraf. Nggak harus sempurna. Nggak harus estetik ala Pinterest. Yang penting jujur.

Karena pada akhirnya, baik lewat kata maupun gambar, traveling selalu tentang satu hal: bagaimana kita melihat dunia, dan bagaimana dunia itu pelan-pelan membentuk kita.

Dan siapa tahu, dari satu sketsa kecil di sudut buku, lahir peta versi kita sendiri.

Versi yang mungkin sederhana. Tapi penuh jiwa.

Komentar

  1. Wah Mbak, aku pun kepengenan punya Travel Doodle journal gini. Tapi entah ya kalau di jalan suka ngga fokus jadi ngga bisa duduk diam dan gambar.

    Thank you Mbak, semoga bermanfaat kunjungan ke blogku yaa

    BalasHapus
  2. Aslii. Ini konsepnya keren banget banget yaa. Aku iri banget beneran sama yang bisa gambar, ahaha. Yuks mak bikin buku serupa tentang Indonesia!

    BalasHapus

Posting Komentar

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)

Postingan Populer